Kamis, 23 Maret 2017

Waspadai Stunting pada Anak

Waspadai Stunting pada Anak
Oleh :
HM Ade Yasin, S.Pd, M.Kes


Stunting adalah salah satu masalah kesehatan utama yang berkaitan dengan nutrisi di seluruh dunia, khususnya negara-negara berkembang. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor utama yang mempengarui terjadinya stunting pada anak usia dibawah lima tahun.  Penelitian ini dilakukan pada tahun 2014 dan merupakan penelitian descriptive cross-sectional. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah purposive sampling untuk memilih posyandu, dan untuk menentukan sampel pada masing-masing posyandu menggunakan proportion stratified random sampling. Total sampel yang digunakan sebanyak 181 sample. Chi-square test and Logistic regression digunakan untuk menganalisis data.  Hasil penelitian menunjukan hubungan yang signifikan antara pendek dengan berat badan lahir (nilai p <.001, PR =1.83), pendidikan ibu (nilai p =.009 PR = 1.80), pengetahuan ibu tentang malnutrisi (nilai p <.001, PR= 2.28), dan tipe-tipe keluarga (nilai p= .003, PR= 1.64); faktor utama penyebab anak pendek pada anak usia dibawah lima tahun adalah pengetahuan ibu tentang malnutrisi (p-value= 0.01, Exp(B)= 0.35).
Stunting pada anak – Stunting merupakan keadaan dimana tubuh yang sangat pendek dibandingkan dengan anak – anak lain pada usianya. Menuru data dari organisasi kesehatan dunia (WHO) hal ini terjadi pada kurang lebih 178 juta anak balita. Stunted merupakan tinggi badan yang tidak sesuai dengan umurnya, yang ditandai dengan lambatnya proses pertumbuhan sehingga mengalami kegagalan dalam mencapai tinggi badan yang normal.
Faktor yang menyebabkan stunting pada anak yaitu kekurangan gizi, mengalami penyakit yang kronis, faktor gizi ibu pada sebelum dan saat hamil merupakan penyebab tidak langsung terhadap tumbuh kembang janin yang mengakibatkan janin mengalami intrauterine growth retardation.
Selain itu Anda harus mengenali ciri – ciri stunting pada anak yang bisa diketahui seperti berikut. Anak yang mengalami stunted pada usia 8 hingga 10 tahun akan merasa tertekan, menjadi lebih pendiam dan tidak berani melakukan kontak mata dengan orang – orang disekitarnya. Pada anak yang mengalami stunting terlihat pada performanya yang kurang baik, daya ingatnya lemah, tes perhatian yang buruk namun masih baik dalam kecepatan gerak. Pertumbuhan dan tanda pubertasnya lambat, wajah lebih muda dari umurnya.
Fakta terkait tentang stunted
1. Anak-anak yang mengalami stunted lebih awal yaitu sebelum usia enam bulan, akan mengalami stunted lebih berat menjelang usia dua tahun. Stunted yang parah pada anak-anak akan terjadi deficit jangka panjang dalam perkembangan fisik dan mental sehingga tidak mampu untuk belajar secara optimal di sekolah, dibandingkan anak- anak dengan tinggi badan normal. Anak-anak dengan stunted cenderung lebih lama masuk sekolah dan lebih sering absen dari sekolah dibandingkan anak-anak dengan status gizi baik.
2. Stunted akan sangat mempengaruhi kesehatan dan perkembanangan anak. Faktor dasar yang menyebabkan stunted dapat mengganggu pertumbuhan dan perkembangan intelektual. Penyebab dari stunted adalah bayi berat lahir rendah, ASI yang tidak memadai, makanan tambahan yang tidak sesuai, diare berulang, dan infeksi pernapasan.
3. Pengaruh gizi pada anak usia dini yang mengalami stunted dapat mengganggu pertumbuhan dan perkembangan kognitif yang kurang. Anak stunted pada usia lima tahun cenderung menetapsepanjang hidup, kegagalan pertumbuhan anak usia dini berlanjut pada masa remaja dan kemudian tumbuh menjadi wanita dewasa yang stunted dan mempengaruhi secara langsung pada kesehatan dan produktivitas, sehingga meningkatkan peluang melahirkan anak dengan BBLR.

Faktor  Penyebab  Stunting

Stunting disebabkan oleh banyak faktor baik secarafaktor langsung dan tak langsung. Faktor langsung ditentukan oleh asupan makanan, berat badan lahir dan penyakit. Sedangkan faktor tak langsung seperti faktor ekonomi, budaya, pendidikan dan pekerjaan,fasilitas pelayanan kesehatan. Faktor sosial ekonomisaling berinteraksi satu dengan yang lainnya seperti masukan zat gizi, berat badan lahir dan penyakitInfeksi pada anak (Frongillo et al., 1997).Anak-anak yangmengalami stunting disebabkan kurangnya asupan makanan dan penyakit yang berulang terutama penyakitinfeksi yang dapat meningkatkan kebutuhan metabolik serta mengurangi nafsu makan sehingga berdampak terjadi ketidaknormalan dalam bentuk tubuh pendek meskipun faktor gen dalam sel menunjukkan potensi untuk tumbuh normal (Dekker et al., 2010)

 Dampak stunting  pada balita

Anak-anak yang mengalami stunting lebih awal yaitu sebelum usia enam bulan, akan mengalami stunting lebih berat menjelang usia dua tahun. Stunting yang parah pada anak-anak akan terjadi defisit  jangka panjang dalam perkembangan fisik dan mental sehingga tidak   mampu untuk belajar secara optimal di sekolah, dibandingkan anak- anak dengan tinggi badan normal(Frongillo et al., 1997).
Stunting pada balita merupakan faktor risiko meningkatnya angka kematian, menurunkan kemampuan kognitif dan perkembangan motorik rendah serta fungsi-fungsi tubuh yang tidak seimbang (Allen and Gillespie, 2001).penelitian Adair and Guilkey (1997)menyatakan stunting pada usia 2 tahun memiliki hubungan yang signifikan dengan rendahnya kecerdasan kognitif.Penelitian lain menunjukkan stunting pada balita berhubungan dengan keterlambatan perkembangan bahasa dan motorik halus sedangkan stunting yang terjadi pada usia 36 bulan pertama biasanya disertai dengan efek jangka panjang(Branca and Ferrari, 2002).

Selain dampak kognitif yang berkurang,anak stunting juga memiliki risiko tinggi untuk menderita penyakit kronik, seperti obesitas dan mengalami gangguan intolerans glukosa.Sebuah penelitian menunjukkan stunting berhubungan dengan oksidasi lemak dan penyimpanan lemak tubuh. Stunting dapat meningkatkan risiko kejadian hipertensi (Branca and Ferrari, 2002).

Merokok Pada Remaja Putri

Merokok Pada Remaja Putri
Oleh :
Setiawan, S.H, M.Kes


Pada remaja saat ini, merokok merupakan suatu pemandangan yang sangat tidak asing. Kebiasaan merokok dianggap dapat memberikan kenikmatan bagi perokok, namun di lain pihak dapat menimbulkan dampak buruk bagi perokok sendiri maupun orang-orang disekitarnya. Berbagai kandungan zat yang terdapat di dalam rokok memberikan dampak negatif pada tubuh penghisapnya. Beberapa motivasi yang melatar belakangi merokok adalah untuk mendapat pengakuan (anticipatory beliefs) untuk menghilangkan kekecewaan (reliefing beliefs) dan menganggap perbuatannya tersebut tidak melanggar norma (permission beliefs/positive) (Joemana, 2004). Hal ini sejalan dengan kegiatan merokok yang dilakukan oleh remaja yang biasanya dilakukan di depan orang lain, terutama dilakukan di depan kelompoknya karena mereka sangat tertatik kepada kelompok sebayanya atau dengan kata lain terikat dengan kelompoknya.
Masa remaja bisa jadi masa di mana individu mengkonsumsi rokok. Smet (1994) berpendapat bahwa usia pertama kali merokok umumnya berkisar antara usia 11-13 tahun dan mereka pada umumnya merokok sebelum usia 18 tahun. Usia tersebut dapat dikategorikan termasuk dalam rentangan masa remaja. Lebih jauh lagi Data WHO mempertegas bahwa remaja memiliki kecenderungan yang tinggi untuk merokok, data WHO menunjukkan bahwa dari seluruh jumlah perokok yang ada di dunia sebanyak 30% adalah kaum remaja (Republika, 1988).
Terdapat banyak alasan yang melatarbelakangi remaja untuk merokok. Secara umum berdasarkan kajian Kurt Lewin, merokok merupakan fungsi dari lingkungan dan individu. Artinya, perilaku merokok selain disebabkan dari faktor lingkungan juga disebabkan oleh faktor diri atau kepribadian.
Faktor dalam diri remaja dapat dilihat dari kajian perkemangan remaja. Remaja mulai merokok dikatakan oleh Erikson (Gatchel, 1989) berkaitan dengan adanya krisis aspek psikososial yang dialami pada masa perkembangannya yaitu masa ketika mencari jati diri. Dalam masa remaja ini sering terjadi ketidaksesuaian antara perkembangan psikis dan perkembangan sosial. Upaya-upaya untuk menemukan jati diri tersebut tidak selalu dapat berjalan sesuai dengan harapan masyarakat. Beberapa remaja melakukan perilaku merokok sebagai cara kompensatoris. Seperti yang dikatakan oleh Brigham (1991) yang dikutip oleh Helmi, bahwasanya perilaku merokok bagi remaja merupakan perilaku simbolisasi. Symbol dari kematangan, kekuatan, kepemimpinan, dan daya tarik terhadap lawan jenis.
Merokok bagi sebagian remaja merupakan perilaku proyeksi dari rasa sakit baik psikis maupun fsik. Walaupun di sisi lain, saat pertama kali mengkonsumsi rokok dirasakan ketidakenakkan. Hal ini sejalan dengan perkataan Helmi yang berpendapat bahwa saat pertama kali mengkonsumsi rokok, kebanyakan remaja mungkin mengalami gejala-gejala batuk, lidah terasa getir, dan perut mual. Namun demikian, sebagian dari para pemula tersebut mengabaikan pengalaman perasaan tersebut, biasanya berlanjut menjadi kebiasaan dan akhirnya menjadi ketergantungan. Ketergantungan ini dipersepsikan sebagai kenikmatan yang memberikan kepuasan psikologis. Sehingga tidak jarang perokok mendapatkan kenikmatan yang dapat menghilangkan ketidaknyamanan yang sedang dialaminya. Gejala ini apat djelaskan dari konsep tobacco dependency (ketergantungan rokok). Artinya, perilaku merokok meruakan perilaku menyenangkan dan dapat menghilangkan ketidaknyamanan dan bergeser menjadi aktivitas yang bersifat obsesif. Hal ini disebabkan sifat nikotin aalah adiktif dan anti-depressan, jika dihentikan tiba-tiba akan menimbulkan stress.
Secara manusiawi, orang cenderung untuk menghindari ketidakseimbangan dan lebih senang mempertahankan apa yang selama ini dirasakan sebagai kenikmatan sehingga dapat dipahami apabila para perokok sulit untuk behenti merokok. Klinke & Meeker (dalam Aritonang, 1997) mengatakan bahwa motif para perokok adalah relaksasi. Dengan merokok dapat mengurangi ketegangan, memudahkan berkonsentrasi, pengalaman yang menyenangkan dan relaksasi.
Seperti yang diungkapkan Levethal & Clearly dalam Cahyani dan dikutip kembali oleh Helmi bahwasanya terdapat empat tahap dalam perilaku merokok sehingga menjadi perokok, yaitu:
  1. Tahap Preparatory. Seseorang yang mendapatkan gambaran yang menyenangkan mengenai merokok dengan cara mendengar, melihat, atau dari hasil bacaan. Hal-hal ini menimbulkan minat untuk merokok.
  2. Tahap Initiation. Tahap perintisan merokok yaitu tahap seseorang meneruskan untuk tetap mencoba-coba merokok.
  3. Tahap becoming smoker. Apabila seseorang telah mengkonsumsi rokok sebnayak empat batang perhari maka seseorang tersebut mempunyai kecenderungan menjadi perokok.
  4. Tahap maintenance of smoking. Tahap ini merokok sudah menjadi salah satu bagian dari cara pegaturan diri (self regulating). Merokok dilakukan untuk memperoleh efek fisiologis yang menyenangkan.
Selain faktor perkembangan remaja dan kepuasan psikologis, masih banyak faktor dari luar individu yang berpengaruh pada proses pembentukkan perilaku merokok. Pada dasarnya perilaku merokok adalah perilaku yang dipelajari. Hal itu berarti terdapat pihak-pihak yang berpengaruh besar dalam proses sosialisasi.
Konsep sosialisai pertama berkembang dari Sosiologi dan dan Psikologi Sosial merupakan suatu proses transmisi nilai-nilai, sistem belief, sikap ataupun perilaku-perilakunya dari generasi sebelumnya kepada generasi berikutnya (Durkin dalam Helmi). Adapun tujuan sosialisasi ini adalah agar generasi berikutnya mempunyai sistem nilai yang sesuai dengan tututan norma yang diinginkan kelompok, sehingga individu dapat diterima dalam kelompok. Dalam kaitannya dengan perilaku merokok, pada dasarnya hamper tidak ada orang tua yang menginginkan anaknya untuk menjadi perokok, bahkan masyarakat tidak menuntut anggota masyarakat untuk menjadi perokok, namun demikian dalam kaitan ini secara tidak sadar, ada beberapa agen yang merupakan model dan penguat bagi perokok remaja.
Agen sosialisasi perilaku merokok pada remaja dapat merupakan orang tua maupun teman sebaya. Dengan merujuk konsep transmisi perilaku, bahwa pada dasarnya perilaku dapat ditransmisikan melalui transmisi vertical dan horizontal (Berry dkk, 1992). Transmisi vertical dapat dilakukan oleh orang tua dan transmisi horizontal dilakukan oleh teman sebaya.
Namun bagaimanapun latarbelakang remaja melakukan perilaku mengkonsumsi merokok tetap saja merokok sebagai salah satu bentuk adiksi yang harus dieliminir. Dalam hal ini remaja di sekolah merupakan subjek layanan profesi bimbingan dan konseling yang harus segera diberi bantuan. Kendatipun perilaku merokok pada remaja dilatarbelakangi lingkungan dan keprbadian, tetapi fokus bantuan konseling yang memandirikan adalah membantu individu untuk memiliki kepribadian sehat dan interdependen terhadap lingkungan.

Perilaku Merokok pada Remaja
Merokok merupakan overt behavior dimana perokok menghisap gulungan tembakau. Hal ini seperti dituliskan dalam KBBI merokok adalah menghisap gulungan tembakau yang dibungkus dengan kertas (Kamus Besar Bahasa Indonesia (1990: 752). Lebih jauh lagi Poerwadarminta dalam Kemala (2007: 9) mendefinisikan merokok sebagai menghisap rokok, dan rokok didefinisikan sebagai gulungan tembakau yang berbalut daun nipah atau kertas. Fakhrurrozi mengidentifikasi merokok sebagai overt behavior karena merokok merupakan perilaku yang nampak. Sebagai overt behavior merokok merupakan perilaku yang dapat terlihat karena ketika merokok individu melakukan suatu kegiatan yang nampak yaitu menghisap asap rokok yang dibakar ke dalam tubuh, hal ini senada dengan pendapat Armstrong dalam Kemala (2007: 10) merokok adalah menghisap asap tembakau yang dibakar ke dalam tubuh dan menghembuskannya kembali keluar.
Merokok merupakan kegiatan yang meyebabkan efek kenyamanan. Rokok memiliki antidepressant yang menimbulkan efek kenyamanan pada perokok. Walaupun perilaku merokok merupakan perilaku yang berbahaya bagi kesehatan karena terdapat sekitar 4000 racun dalam sebatang rokok.
Merokok sebagai gangguan obsesif kompulsif. orang yang mengalami gangguan ini memiliki obsesi atau kompulsi yang menetap. Obsesi adalah pikiran, ide atau citra yang terus menerus berulang secara tidak terkendali dan mendominasi kesadaran seseorang. Kompulis adalah dorongan untuk melakukan tindakan stereotip dengan tujuan yang umumnya tidak realistik yaitu menghilangkan sistuasi yang menimbulkan ketakutan. Upaya untuk menolak kompulsi menimbulkan ketegangan yang sangat besar sehingga individu biasanya menyerah dan melakukannya.
Merokok sebagai ganggguan kesehatan dan jiwa. Merokok berkaitan erat dengan disabilitas dan penurunan kualitas hidup. Dalam sebuah penelitian di Jerman sejak tahun 1997-1999 yang melibatkan 4.181 responden, disimpulkan bahwa responden yang memilki ketergantungan nikotin memiliki kualitas hidup yang lebih buruk, dan hampir 50% dari responden perokok memiliki setidaknya satu jenis gangguan kejiwaan. Selain itu diketahui pula bahwa pasien gangguan jiwa cenderung lebih sering menjadi perokok, yaitu pada 50% penderita gangguan jiwa, 70% pasien maniakal yang berobat rawat jalan dan 90% dari pasien-pasien skizrofen yang berobat jalan (Pikiran Rakyat).
Perilaku merokok dipengaruhi perasaan negative. Menurut Silvan & Tomkins (Muta’din: 2002) banyak orang yang merokok untuk perasaan negative dalam dirinya. Misalnya merokok bila marah, cemas, gelisah, rokok dianggap sebagai penyelamat. Mereka menggunakan rokok bila perasaan tidak enak terjadi, sehingga terhindar dari perasan yang tidak enak.
Perilaku merokok pada remaja merupakan perilaku transmisif. Dari penelitian Helmi dan Komalasari (2000) didapatkan kesimpulan bahwa perilaku merokok merupaka perilaku yang dipelajari dan ditularkan melalui aktivitas teman sebaya dan perilaku permisif orang tua.
Perilaku merokok didorong oleh nilai-nilai dalam diri remaja. Beberapa motivasi yang melatar belakangi merokok adalah untuk mendapat pengakuan (anticipatory beliefs) untuk menghilangkan kekecewaan (reliefing beliefs) dan menganggap perbuatannya tersebut tidak melanggar norma (permission beliefs/positive) (Joemana, 2004).
Jadi dapat disimpulkan bahwa perilaku merokok pada remaja adalah kegiatan kompulsif dengan menghisap asap yang berasal dari gulungan tembakau yang dibakar untuk mendapatkan kepuasan fisiologis dan sosiologis dan juga upaya eliminasi perasaan negative yang ada dalam diri remaja yang banyak dipelajari dari lingkungan teman sebaya dan didorong oleh keinginan mendapat pengakuan (anticipatory beliefs) untuk menghilangkan kekecewaan (reliefing beliefs) dan menganggap perbuatannya tersebut tidak melanggar norma (permission beliefs/positive).
Latar Belakang Perilaku Merokok dan Kecanduan Merokok Pada Remaja
Terdapat banyak faktor yang mempengaruhi seseorang untuk merokok. Hansen dalam Kemala (2008) berpendapat bahwa faktor yang mempengaruhi perilaku merokok yaitu: Faktor biologis, faktor psiklogis, faktor lingkungan sosial, faktor demografis, faktor sosial-kultural,faktor sosial politik. Namun pada remaja yang paling mempengaruhi perilaku merokok adalah:

Pengaruh Orang Tua
Salah satu temuan remaja perokok adalah bahwa anak-anak muda yang berasal dari rumah tangga yang tidak bahagia, dimana orang tua tidak begitu memperhatikan anak-anaknya dan memberikan hukuman fisik yang keras lebih mudah untuk menjadi perokok dibanding anak-anak muda yang berasal dari lingkungan rumah tangga yang bahagia (Baer & Corado dalam Atkinson, Pengantar Psikologi, 1999 : 292) Ditemukan juga oleh Helmi dan Komalasari (online) bahwa sikap permisif orang tua memiliki korelasi yang signifikan dengan perilaku merokok pada remaja.
Pengaruh Teman
Berbagai fakta mengungkapkan bahwa semakin banyak remaja merokok maka semakin besar kemungkinan teman-temannya adalah perokok juga dan demikian sebaliknya. Dari fakta tersebut ada dia kemungkinan yang terjadi, Pertama, remaja terpengaruh oleh teman-temannya atau bahkan teman-teman remaja tersebut dipengaruhi oleh diri remaja tersebut yang akhirnya mereka semua menjadi perokok. Diantara remaja perokok terdapat 87% mempunyai sekurang-kurangnya satu atau lebih sahabat yang perokok begitu pula dengan remaja non perokok, (Al. Bachri, 1991).
Kepribadian
Proyeksi
Remaja merokok karena alasan ingin tahu atau ingin melepaskan diri dari rasa sakit fisik atau jiwa membebaskan diri dari kebosanan. Menurut Teddy Hidayat, (Pikiran Rakyat: 2007) remaja yang berisiko tinggi adalah remaja-remaja yang memiliki sifat pemuasaan segera, kurang mampu menunda keinginan, merasa kosong dan mudah bosan, mudah cemas, gelisah, dan depresif. Hal ini diperkuat dengan hasil penelitian dari CASA (Columbian University`s National Center On Addiction and Substance Abuse), remaja perokok memiliki risiko dua kali lipat mengalami gejala-gejala depresi dibandingkan remaja yang tidak merokok. Para perokok aktif pun tampaknya lebih sering mengalami serangan panik dari pada mereka yang tidak merokok Banyak penelitian yang membuktikan bahwa merokok dan depresi merupakan suatu hubungan yang saling berkaitan. Depresi menyebabkan seseorang merokok dan para perokok biasanya memiliki gejala-gejala depresi dan kecemasan (ansietas).
Rasa keingintahuan
Pada remaja perkembangan kognisi menuntut rasa keingintahuan yang sangat besar. Seiring pula dengan hal itu kognisi sosial pada remaja berkembang pula, sehingga remaja sering melakukan kegiatan coba-coba yang didukung oleh pergaulan.
Kompensasi rasa kurang percaya diri
Rasa kurang percaya diri pada remaja dimanifestasikan dengan berbagai cara baik dengan cara positif maupun negatif. Cara yang positif untuk membangun rasa percaya diri yaitu dengan menciptakan definisi diri positif, memperjuangkan keinginan yang positif, mengatasi masalah secara positif, memiliki dasar keputusan yang positif. Sedangkan cara yang negatif untuk membangun rasa percaya diri yaitu sulit menerima realita diri (terlebih menerima kekurangan diri) dan memandang rendah kemampuan diri sendiri namun di lain pihak memasang harapan yang tidak realistik terhadap diri sendiri. Cenderung melakukan tindakan negatif yaitu dengan merokok, sehingga dengan menggunakan zat tersebut remaja cenderung lebih merasa percaya diri (Jacinta, 2002). Hal ini dibuktikan dengan hasil penelitian Haryono (2007) bahwasanya Terdapat korelasi antara Ketergantungan Merokok dengan Percaya Diri,  (r = -0,90 p < 0,05). Artinya semakin tinggi tingkat ketergantungan merokok, maka semakin rendah tingkat percaya diri.
Dinamika Psikologis Perilaku Merokok Pada Remaja
Levethal & Clearly dalam Cahyani dan dikutip kembali oleh Helmi dan Komalasari (2000) berpendapat bahwasanya terdapat empat tahap dalam perilaku merokok sehingga menjadi perokok, yaitu: tahap preparatory, tahap initiation, tahap becoming smoker dan tahap maintenance for smoke.
Tahap Preparatory
Tahap preparatory merupakan tahap dimana remaja sering mendapatkan model yang menyenangkan dari lingkungan dan media. Remaja yang mendapatkan gambaran yang menyenangkan mengenai merokok dengan cara mendengar, melihat, atau dari hasil bacaan menimbulkan minat untuk merokok.
Yang biasanya menjadi life-model paling utama bagi remaja adalah teman sebaya hal ini terbukti dengan berbagai fakta yang mengungkapkan bahwa semakin banyak remaja merokok maka semakin besar kemungkinan teman-temannya adalah perokok juga dan demikian sebaliknya, biasanya remaja menularkan perilaku merokok dengan cara menawari teman-teman remaja lainnya dengan menjanjikan kenikmatan merokok, atau dalih solidaritas kelompok. Dari teman sebaya ini kemudian remaja yang belum merokok menginterpretasi bahwasanya dengan merokok dia akan mendapatkan kenyamanan, dan atau dapat diterima kelompok, dari hasil interpretasi tersebut kemungkinan remaja membentuk dan memperkokoh anticipatory beliefs yaitu belief yang mendasari bahwa remaja membutuhkan pengakuan teman sebaya.
Life-model lainnya yang mungkin berpengaruh pada perilaku merokok pada remaja adalah orang tua. Orang tua yang merokok kemungkinan berdampak besar pada pembentukkan perilaku merokok pada remaja. Hal tersebut membuat permission belief remaja. Interpretasi remaja yang mungkin terbentuk adalah bahwasanya merokok tidak berbahaya, tidak melanggar peraturan dan norma. Hasil dari interpretasi tersebut memungkinkan terbentuknya permission belief system.
Model lainnya yang mungkin berpengaruh pada pembentukkan perilaku merokok adalah media masa.
Tahap Initiation
Tahap perintisan merokok yaitu tahap seseorang meneruskan untuk tetap mencoba-coba merokok. Setelah terbentuk interpretasi-interpretasi tentang model yang ada, kemudian remaja mengevaluasi hasil interpretasi tersebut melalui perasaan dan perilaku. Evaluasi perasaan yang mungkin terbentuk adalah “saya akan hancur apabila teman-teman lain merokok dan saya tidak, mungkin mereka akan menjauhi, saya akan hancur”, maka evaluasi perilaku yang remaja lakukan adalah mencoba-coba untuk merokok. Biasanya kegiatan coba-coba ini hanya dilakukan dengan intensitas yang rendah dan hanya pada waktu-waktu tertentu. Helmi dan Komalasari (2000: 9) membuktikan bahwa perilaku merokok pada remaja sebanyak 27,96 % dilakukan ketika berkumpul bersama teman-teman.
Tahap becoming smoker
Menurut Levethal & Clearly Tahap becoming smoker merupakan tahap dimana seseorang telah mengkonsumsi rokok sebanyak empat batang perhari maka seseorang tersebut mempunyai kecenderungan menjadi perokok. Hal ini didukung dengan adanya kepuasan psikologis dari dalam diri, dan terdapat reinforcement positif dari teman sebaya.
Untuk memperkokoh perilaku merokok, paling tidak terdapat kepuasan psikologis tertentu yang diperoleh ketika remaja merokok. Kepuasan psikologis merokok dijelaskan Helmi dan Komalasari (2000: 11) sebagai akibat atau efek yang diperoleh dari merokok yang berupa keyakinan dan perasaan yang menyenangkan. Hasil penelitian Helmi & Komalasari membuktikan bahwa kepuasan psikologis memberikan sumbangan yang besar sebanyak 40,9 % terhadap perilaku merokok remaja. Hal ini memberikan gambaran bahwa perilaku merokok bagi remaja dianggap memberikan kenikmatan dan menyenangkan. Berikut hasil penelitian Helmi dan Komalasari mengenai perasaan-perasaan remaja saat merokok dan setelah merokok.
Efek
%
Nikmat
38,298
Puas
15,957
Tenang
12,766
Biasa saja
11, 703
Santai
5, 139
Hangat
3, 192
Percaya diri
2, 128
Gaya
1,064
Masalah hilang
1,064
Mengantuk
1,064
Pusing
5,257
Pahit
2, 218
(Helmi & Komalasari: 2000)
Selain mendapatkan kepuasan psikologis reinforcement positif dari teman sebaya merupakan faktor yang menentukan bagi remaja untuk merokok. Penelitian Harlianti (1988), Helmi dan Komalasari (2000) membuktikan bahwa lingkungan sebaya memberikan sumbangan yang besar terhadap perilaku merokok pada remaja. Ligkungan teman sebaya memiliki arti yang penting bagi remaja. Kebutuhan untuk diterima dan usaha untuk menghindari penolakan teman sebaya merupakan kebutuhan yang sangat penting pada remaja. Remaja menurut Brigham dalam Helmi (2000) tidak ingin dirinya disebut banci atau pengecut. Merokok bagi remaja merupakan simbolisasi atas kejantanan, kekuasaan dan kedewasaan.
Bisa jadi symbol kedewasaan, kejantanan dan kekuasaan merupakan hasil evalauasi proses kognisi atas interpretasi remaja terhadap orang tua yang bertindak sebagai life-model merokok. Interpretasi tersebut kemudian dievaluasi melalui perasaan dan tindakan. Evaluasi perasaan yang terbentuk adalah “terlihat jantan, dewasa, dan berkuasa, akan sangat membanggakan”.
Tahap maintenance of smoking
Menurut Levethal & Clearly pada tahap ini merokok sudah menjadi salah satu bagian dari cara pegaturan diri (self regulating). Merokok dilakukan untuk memperoleh efek fisiologis yang menyenangkan. Individu yang berada pada tahap ini telah merasakan betul kenikmatan dari merokok, merokok dapat dilakukan sesering mungkin, pengharapan eliminasi kecemasan juga dilakukan perokok pada tahap ini melalui meroko, selain itu rokok juga digunakan sebagai penghindaran-penghindaran kecemasan dan upaya relaksasi bagi perokok. Merokok dilakukan untuk menhilangkan rasa lelah, mengjhilangkan rasa tidak enak ketika setelah makan, merokok ketika melakukan pekerjaan, merokok ketika merasa terpojokkan, merokok ketika lelah berpikir, merokok ketika merasa pusing dan lain-lain.
Tahap ini terjadi setelah keyakinan inti terbentuk, keyakinan inti tersebut adalah keyakinan dengan merokok mendapatkan pengakuan dari teman sebaya (anticipatory beliefs), merokokdapat memberikan kenikmatan dan menghilangkan kekecewaan (reliefing beliefs), serta keyakinan bahwa merokok bukan suatu pelanggaran norma (permission beliefs).

Selain itu perilaku permisif orang tua tentang bagaimana menyikapi remaja yang merokok, dapat berpengaruh pada perilaku merokok remaja. Bila saja orang tua berlaku tegas untuk tidak membiarkan anak remajanya untuk merokok maka tahap maintenance of smoking ini akan ditekan atau dieliminir. 

Manajemen Posyandu

Manajemen Posyandu
Oleh :
Dadan Yogaswara, S.KM, M.KM



Posyandu adalah pusat pelayanan keluarga berencana dan kesehatan yang dikelola dan diselenggarakan untuk dan oleh masyarakat dengan dukungan tehnis dari petugas kesehatan dalam rangka pencapaian norma keluarga kecil bahagia sejahtera
A.   Tujuan Posyandu
Tujuan pokok dari Posyandu menurut Effendy (1998), antara lain untuk :
  1. Mempercepat penurunan angka kematian ibu dan anak,
  2. Meningkatkan pelayanan kesehatan ibu dan untuk menurunkan angka kematian ibu dan anak,
  3. Mempercepat penerimaan norma keluarga kecil bahagia sejahtera,
  4. Meningkatkan kemampuan masyarakat untuk mengembangkan kegiatan kesehatan dan kegiatan–kegiatan lain yang menunjang peningkatan kemampuan hidup sehat, pendekatan dan pemerataan pelayanan kesehatan kepada masyarakat dalam usaha meningkatkan cakupan pelayanan kesehatan kepada penduduk berdasarkan geografi,
  5. Meningkatkan dan pembinaaan peran serta masyarakat dalam rangka alih tehnologi untuk swakelola usaha–usaha kesehatan masyarakat
B.   Kegiatan Posyandu
Terdapat berbagai jenis kegiatan yang dilakukan pada Posyandu antara lain meliputi 5 kegiatan posyandu dan 7  kegiatan posyandu (sapta krida posyandu):
Lima kegiatan posyandu antara lain :
  1. Kesehatan ibu anak,
  2. Keluarga berencana,
  3. Imunisasi,
  4. Peningkatan gizi,
  5. Penanggulangan diare;
Tujuh kegiatan Posyandu (sapta krida posyandu) meliputi:
  1. Kesehatan ibu anak,
  2. Keluarga berencana,
  3. Imunisasi,
  4. Peningkatan gizi,
  5. Penanggulangan diare,
  6. Sanitasi dasar,
  7. Penyediaan obat esensial;
 Sedangkan jenis pelayanan yang diberikan antara lain :
  1. Pemeliharaan kesehatan bayi dan balita,
  2. Penimbangan bulanan,
  3. Pemberian makanan tambahan,
  4. imunisasai bagi bayi 0-11 bulan,
  5. Pemberian oralit untuk penanggulangan diare,
  6. Pengobatan penyakit sebagai pertolongan pertama;
Beberapa kegiatan pada pemeliharaan kesehatan ibu hamil, ibu menyusui dan pasangan usia subur antara lain :
  1. Pemeriksaan kesehatan umum
  2. Pemeriksaan kehamilan dan nifas
  3. Pelayanan peningkatan gizi melalui pemberian vitamin dan pil penambah darah
  4. Imunisasi tetanus toxoid untuk ibu hamil
  5. Penyuluhan kesehatan dan keluarga berencana
  6. Pemberian oralit pada ibu yang terkena diare
  7. Pengobatan penyakit sebagai pertolongan pertama
  8. Pertolongan pertama pada kecelakaan
Prinsip dasar pelayanan Posyandu antara lain ;
  1. Pos pelayanan terpadu merupakan usaha masyarakat dimana terdapat perpaduan antara pelayanan profesional
  2. Adanya kerjasama lintas program yang baik kesehatan ibu dan anak, keluarga berencana, gizi, imunisasai, penanggulangan diare maupun lintas sektoral seperti: departemen kesehatan, bantuan desa dan badan koordinasi keluarga berencana nasional
  3. Kelembagaan masyarakat pos desa, kelompok timbang/pos timbang, pos imunisasai, pos kesehatan
  4. Mempunyai sasaran penduduk yang sama bayi umur 0-1 tahun, anak balita umur 1-4 tahun, ibu hamil, pasangan usia subur
  5. Pendekatan yang digunakan adalah pengembangan dan pembangunan kesehatan masyarakat desa dan primary health care .
Sistem Kerja Posyandu
Menurut Muninjaya (1999), sistem kerja Posyandu merupakan rangkaian kegiatan yang meliputi input, proses dan output.
Input adalah ketersedianya sumber daya yang dibutuhkan dalam pelaksanaan kegiatan posyandu, yang meliputi antara lain:
  1. Sarana fisik atau kelengkapan seperti bangunan, meja kursi, perlengkapan penimbangan, perlengkapan pecatatan dan pelaporan, perlengkapan penyuluhan dan perlengkapan pelayanan,
  2. Sumber daya manusia yang ada seperti kader, petugas kesehatan dan aparat desa atau kecamatan yang ikut berperan dalam kelangsungan program,
  3. Ketersedianya dana, sebagai penunjang kegiatan yang berasal dari pemerintah maupun swadaya masyarakat,
  4.  Penyelenggaraan kegiatan posyandu dan bagaimana cara persiapan serta mekanisme pelayanannya.
Proses, dalam sistem pelayanan Posyandu antara lain meliputi:
  1. Pengorganisasian posyandu mencakup adanya struktur organisasi, yaitu adanya perencanaan kegiatan mulai persiapan, monitoring oleh petugas sampai evaluasi proses dan hasil kegiatan. Adanya kejelasan tugas dan alur kerja yang jelas serta dipahami oleh kader posyandu,
  2. Pelaksanaan kegiatan posyandu yang mencakup pendaftaran, penimbangan, pencatatan penyuluhan, pelayanan kesehatan dan keluarga berencana. Program pokok yang minimal harus dilaksanakan meliputi lima pelayanan yaitu kesehatan ibu dan anak, gizi, keluarga berencana, penanggulangan diare dan imunisasi
  3. Pembinaan dan pemantauan petugas yang mencakup adanya rencana kegiatan pembinaan dan pemantauan yang jelas dan tertulis, ada jadwal yang terencana dengan baik, siapa yang menjadi sasaran, cara pembinaan, pemantauan dan pemecahan masalah,
  4. Pelaksanaan kunjungan rumah oleh kader untuk membina kesehatan dan gizi masyarakat terutama pada keluarga sasaran. Proses pelaksanaan kunjungan harus direncanakan siapa sasaran, kapan dilaksanakan, siapa yang melaksanakan dan hasil dicatat dalam kegiatan kader
  5. Pelaksanaan evaluasi program dilaksanakan setiap bulan. Di tingkat posyandu dilaksanakan setelah selesai kegiatan pelayanan yang melibatkan kader, aparat desa, pembinaan kesejahteraan keluarga dan petugas pembina. Sedangkan di tingkat kecamatan dilaksanakan melalui pertemuan lintas sektor di kecamatan lain yang berkaitan dengan kesehatan dan perbaikan gizi serta keluarga berencana
  6. Umpan balik tentang hasil kegiatan posyandu, hasil pembinaan dan evaluasi disampaikan melalui pertemuan rutin yang telah direncanakan. Umpan balik berasal dari aparat desa, tokoh masyarakat dan kelompok kerja personal baik tingkat desa, kecamatan maupun kabupaten
  7. Imbalan (reward) bagi kader, sangat bermanfaat untuk menjaga kelestarian kader dalam melaksanakan tugasnya, dan harus dipikirkan, karena dengan imbalan tersebut diharapkan dapat memelihara dan meningkatkan motivasi kerja kader.
Output

Keluaran kegiatan posyandu berupa cakupan hasil kegiatan penimbangan, pelayanan pemberian makanan tambahan, distribusi paket perbaikan gizi, pelayanan imunisasi, pelayanan keluarga berencana dan penyuluhan. Sedangkan output kegiatan yang diharapkan berupa peningkatan status gizi, dan ibu hamil, penurunan angka kematian ibu, angka kematian bayi, berat badan lahir rendah dan angka kesakitan.