Kamis, 17 November 2016

Kamis, 13 Oktober 2016

Artikel Dosen Program Studi DIII Kebidanan (Cegah Pre Ekslamsi Pada Ibu Hamil)

 

Cegah Pre Ekslamsi Pada Ibu Hamil

OLEH :

Lilis Lisnawati, SST, M.Keb

 

Preeklampsia adalah tekanan darah tinggi pada ibu hamil dan kelebihan kadar protein dalam urin. Kondisi ini terjadi ketika tekanan darah tinggi mencapai di atas 130/90 dan biasanya bila usia kehamilan sudah menginjak 20 minggu ke atas.

Preeklampsia khusus terjadi pada wanita hamil, memiliki beberapa gejala: peningkatan tekanan darah, pembengkakan pergelangan kaki dan tangan, serta protein pada urin. Meski tidak ada yang bisa dilakukan untuk mencegah preeklampsia, perawatan antenatal yang baik bisa memastikan kondisi ini tidak memburuk. Preeklampsia paling umum terjadi pada kehamilan pertama.

Preeklampsia adalah penyakit yang hanya terjadi pada kehamilan yang berpotensi mempengaruhi ibu dan bayi dan paling umum terjadi pada penghujung kehamilan. Kita tidak tau pasti penyebab preeklampsia, meski tampaknya ini bersifat menurun di keluarga. Anak perempuan dari ibu yang pernah mengalami preeclampsia biasanya lebih cenderung mengalaminya juga. Preeklampsia bisa disebabkan atau dicegah dengan mengatur yang Anda makan, mengubah cara Anda memandang kehamilan; atau dengan berolahraga.

Kondisi tekanan darah tinggi ini juga umum terjadi pada wanita yang sebelumnya mengidap hipertensi, diabetes, lupus, dan bertubuh gemuk. Preeklampsia terjadi pada sebanyak 10 persen kehamilan dan biasanya pada trimester kedua atau ketiga, atau setelah minggu ke 32. Walaupun ada beberapa wanita yang mengalami preeklampsia di usia kehamilan 20 minggu tetapi hal ini jarang terjadi.

Tes urin antenatal mungkin juga akan menunjukkan kebocoran protein ke urin dari ginjal, yang tidak bisa berfungsi secara efektif seperti saat sebelum hamil. Mekanisme pembekuan darah mungkin juga akan terpengaruh. Kemungkinan besar, jika preeklampsia kembali muncul pada kehamilan kedua, kadarnya akan lebih ringan dari sebelumnya. Terlepas dari itu semua, tetap disarankan untuk mencermati hasil tes antenatal Anda.

Ada beberapa pendapat yang mengatakan bahwa dengan pola makan tinggi protein mungkin dapat melindungi diri dari preeklampsia, tetapi teori ini belum terbukti. Ada yang berpendapat bahwa mengonsumsi suplemen kalsium dan minyak ikan akan membantu, tetapi tidak ada bukti yang cukup kuat mendukung hal tersebut karena belum ada penelitian khusus tentang hal ini.

Yang pasti preeklampsia dimulai dari plasenta. Mendekati akhir kehamilan, plasenta membesar, menjadi sebesar piring makan, dengan tebal sekitar 5 cm dan membutuhkan persediaan darah yang banyak dan efisien dari ibu untuk menjaga janin tetap tumbuh sehat. Pada kondisi preeklampsia, plasenta kekurangan persediaan darah yang cukup, dan ini berpotensi memberi dampak buruk bagi ibu dan bayi.

Meski tidak ada tes screening yang bisa memprediksi risiko bahwa ibu hamil mengalami preeklampsia, terdapat beberapa tes dasar yang bisa dilakukan pada awal kehamilan. Ini bisa diulangi dengan interval yang teratur, untuk memberi peringatan jika preeklampsia muncul. Jadi, selain pemeriksaan tekanan darah, urin, dan berat badan yang biasa dilakukan, para ibu hamil sebaiknya melakukan tes untuk fungsi ginjal dan hati.

Jika preeklampsia memburuk, janin menunjukkan tanda-tanda gawat atau kondisi ibu memburuk, hanya ada satu penanganannya, bayi harus segera dilahirkan. Semua ahli kandungan bisa menangani wanita berisiko atau menderita preeklampsia. Riset menunjukan faktor terpenting untuk keberhasilan kelahiran dengan preeklampsia adalah keterlibatan dokter dan bidan yang terbiasa dengan kondisi ini, dan langsung dapat bertindak begitu terdapat tanda bahaya.

 

Kamis, 29 September 2016

Artikel Dosen Program Studi DIII Kebidanan (ASPEK SOSIAL BUDAYA DALAM PELAYANAN KEBIDANAN)

 

ASPEK SOSIAL BUDAYA DALAM PELAYANAN KEBIDANAN

 

OLEH :

Chanty Yunie, SST,Mkes

 

Dosen Prodi Kebidanan

STIKes Respati Tasikmalaya

 

Dalam masyarakat pada umumnaya pentingnya akan kesehatan masih banyak yang belum sepenuhnya memahami,terutama pada orang awam yang masih menjunjung tinggi adat istiadat dan budaya  daerah mereka dan kepercayaan pada nenek moyang atau orang terdahulu sebelum mereka,meraka masih mempercayai mitos-mitos tentang cara-cara mengobati masalah kesehatan,padahal pada faktanya kegiatan mereka tersebut malah menjadi penghambat dalam peningkatan kesehatan masyarakat terutama masalah kesehatan ibu dan anak.apa lagi di era sekarang ini kondisi kesehatan ibu dan anak sangat-sangat memprihatinkan.masih banyak anak-anak yag nutrisi dan gizinya belum tercukupi,karena sebagian masyarakat masih menganggap bahwa apa yang telah di berikan orang terdahulu mereka harus di berikan kepada anak mereka sekarang.

Pada ibu hamil juga masih banyak mitos-mitos yang di percaya untuk tidak di lakukan,padahal itu harus di lakukan untuk kesehatan ibu dan janin yang di kandungnya,misalnya seperti di larang makan ikan laut,padahal ikan laut itu bergizi tinggi dan banyak mengandung protein yang bagus untuk kesehatan ibu dan janin,tapi mitos dalam budaya mereka melarang larang untuk memakannya.pada budaya di daerah mereka ada juga ritual untuk wanita yang sedang hamil,seperti upacara mengandung empat bulan,tujuh bulan,dan lebih dari sembilang bulan.

Menjadi seorang bidan desa dan di tempatkan pada desa yang plosok dan masih tinggi menjunjung adat istiadat budayan dan mempercayai mitos sangatlah susah dan penuh perjuangan mental dan raga,karena masyarakatnya lebih mempercayai mitos dari pada tenaga kesehatan seperti bidan,mereka masih mempercayai dukun untuk menolong persalinan atau pun menyembuhkan  penyakit yang di derita masyarakat dan anak.Padahal persalinan dengan bantuan dukun akan menakutkan sekali,karena takut terjadinya infeksi paska persalian,misalnya penularan penyakit selama persalinan,seperti pemotongan tali pusar dengan menggunakan gunting biasa atau belatih dari bambu,padahal seharus naya semua alat yang di gunakan dan gunting tersebut harus di sterilkan terlebih dahulu,tapi kalau dukun tidak melakukan hal itu.

            Jadi tugas kita sebagai tenaga kesehatan bidan dalam upaya untuk menanggulangi maslah-masalah tersebut dan meningkatkan kesehatan ibu dan anak kita harus merubah paradigma masyarakat awam tentang ke jelekan tenaga kesehatan bidan di mata orang awam,karena bidan lebih berkompeten dalam melkukan tindakan karena sudah mendapatkan ilmu yang banyak dan mengetahui tentang maslah dan penanggulanganya secara baik dan benar sesuai prosedur kesehatan yang ada.dan pemerintah juga harus berperan dalam pengadaan penunjang untuk mencapai mengurangi kematian ibu dan bayi yang dalam program pemerintah di beri namasasaran milineum development goals (MDGs).sehingga menciptakan sebuah masyarakat yang tanggap dan berperan aktif dengan maslah kesehata,terutama untuk diri mera sendri,dan menjadikan suami siaga pada saat akan persalinan,dan tercapai lah tujuan pemerintah tecapai tindakan untuk membuwat “ibu selamat,bayi sehat,dan suami siaga”.

 

Contoh –Contoh Aspek Sosial Budaya Dalam Pelayanan Kesehatan

Pada masyarakat di daerah tempat tinggal saya,masih banyak mitos-mitos yang di percayai ketika hamil dan pada saat anak sakit misalnya:

1.    Minum air kelapa muda dan minyak kelapa saat hamil,karena akan memperlancar persalinan

2.    Pada saat hamil ketika keluar malam harus membawa  gunting atau pisau kecil,agar tidak di ganggu oleh mahluk halus

3.    Ada kepercayaan kalau pada saat hamil perutnya bulat,berati bayi perempuan.

4.    Minum jamu pada saat hamil,akan membuwat ibu dan bayinya sehat

5.    Pada saat hamil tidak boleh menyakui telor,di percaya pada saat persalinan akan sulit atu di kenal istilah “bebelen”

6.    Wanita hamil tidak boleh makan buah nanas dan duren,karen bisa menyebabkan keguguran

7.    Saat hamil tidak boleh membicarakan orang lain tentang kejelekannya karna dapat berbalik pada anak yang di kandungnya

8.    Saat hamil juga di larang untuk membangun rumah,karena bisa membuat janin yang di kandung keguguran

Jumat, 16 September 2016