Senin, 22 April 2019

artikel ilmiah


Kenali Risiko Diabetes Millitus pada Usia Remaja


Oleh :
Wuri Ratna Hidayani, S.KM., M.Sc


Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memprediksikan kenaikan jumlah penyandang diabetes di Indonesia dari 8,4 juta pada tahun 2000 menjadi sekitar 21,3 juta pada tahun 2030. Laporan statistik dari Internasional Diabetic Federation (IDF) menyebutkan ada sekitar 230 juta penderita diabetes. Angka tersebut terus bertambah hingga 3% atau sekitar 7 juta orang setiap tahunnya. penderita diabetes mellitus usia 20-79 tahun pada tahun 2010 di Indonesia berjumlah 7,0 milyar. Jumlah penderita diabetes diperkirakan akan mencapai 350 juta pada tahun 2025. Setengah dari angka tersebut berada di Asia, terutama India, China, Pakistan dan Indonesia (Syafey, 2012). Remaja merupakan investasi penerus pembangunan bangsa sehingga perlu mengenal risiko diabetes melitus seperti pola gaya hidup yang tidak sehat, kurang aktivitas fisik, obesitas, perilaku merokok. DM ditandai dengan adanya peningkatan kadar gula darah atau hiperglisemia yang terus menerus dan bervariasi terutama setelah makan. DM merupakan gangguan metabolisme kronis yang ditandai dengan tingginya kadar gula darah sebagai akibat insufiensi fungsi insulin. Hal tersebut dapat disebabkan oleh gangguan difisiensi produksi insulin oleh sel beta langerhans kelenjar pankreas dengan kriteria >110 mg/dL (Sunaryati, 2011). Manifestasi DM yaitu terjadinya hiperglikemia berat yang melebihi ambang ginjal sehingga menyebabkan glikosuria. Glikosuria mengakibatkan diuresis osmotik yang meningkatkan poliuri, polidipsia dan polifagia. Gejala klinis DM yaitu poliuria, polidipsia dan polifagia. Klasifikasi DM terbagi menjadi 2 yaitu tipe 1 Diabetes Mellitus Tergantung insulin atau Insulin Dependent Diabetes Mellitus (IDDM) dan diabetes tipe 2 Diabetes Mellitus Tidak tergantung Insulin  atau Non Insulin Dependent Diabetes Mellitus (NIDDM) (Russel, 2011).
            DM tipe 1 maupun tipe 2 banyak menyerang semua golongan umur dan jenis kelamin. Dewasa ini DM banyak menyerang usia anak sekolah dan remaja. Hal ini disebabkan oleh gaya hidup yang tidak sehat sehat. Faktor risiko DM yang menyerang remaja antara lain pola makan cepat saji, kurangnya aktivitas fisik, obesitas, mengkonsumsi makanan berkolesterol tinggi, minum sofdrink. Pengaruh globalisasi menyebabkan gaya hidup pada remaja mengikuti gaya hidup orang Barat seperti makan fried chicken, mie instans, makanan berpengawet, berpewarna. Gaya hidup yang tidak sehat yaitu pola makan yang tidak sehat, kurang aktivitas mengakibatkan obesitas karena sering mengkonsumsi makanan berkolesterol tinggi mengakibatkan metabolisme dalam tubuh tidak sempurna sehingga menyebabkan fungsi insulin tidak berfungsi dengan baik. Beberapa penelitian menyatakan adanya hubungan antara aktivitas fisik dengan kejadian DM pada remaja. Aktivitas fisik dapat mencegah terjadinya DM pada remaja. Menurut Gibney (2009) aktivitas fisik langsung memperbaiki sensitivitas otot-otot terhadap insulin, sehingga gula darah mudah ditimbun dalam otot daripada dibiarkan meningkat dalam peredaran darah.Peningkatan aktivitas fisik dalam intensitas sedang dan memberi hasil dalam program pencegahan dan pengobatan DM. Remaja pada laki-laki umumnya memiliki kebiasaan merokok karena menganggap apabila tidak merokok tidak merasa jantan, tidak gaul dan sebagainya. Penelitian menyatakan bahwa merokok berhubungan dengan kejadian DM. Remaja yang memiliki kebiasaan merokok semakin lama akan terpapar nikotin yang terkandung dalam rokok. Berdasarkan penelitian Bergman secara in vitro, saat tubuh menerima paparan nikotin, maka nikotin tersebut akan berikatan dengan reseptor nicotinic acetylcholine pada otot kerangka dan otot pada jaringan (Bergman, et al, 2012). Hal ini mengakibatkan terjadinya ikatan antara nikotin dengan reseptor nicotinic acetylcholin menyebabkan peningkatan aktivasi mTOR dan terjadi IRS- 1 Ser636 Posphorylation yang menyebabkan terjadinya resistensi insulin pada perokok (Bajaj, 2012).
           

Tidak ada komentar :

Posting Komentar