Senin, 01 April 2019

kegiatan abdimas dosen mahasiswa tahun 2017


SEKOLAH SEHAT SEBAGAI UPAYA PENINGKATAN
KESEHATAN ANAK USIA SEKOLAH DI KECAMATAN SINGAPARNA KABUPATEN TASIKMALAYA TAHUN 2017

OLEH :
Teni Supriyani, S.Si, M.KM
Neni Ambar Alawiah, AMKG


A.    DASAR PEMIKIRAN
Undang-undang Republik Indonesia nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional menyatakan bahwa pendidikan merupakan suatu usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya. Untuk membuat suasana belajar yang aktif dan efektif, salah satu hal yang harus diperhatikan adalah kondisi lingkungan sekolah yang merupakan tempat diselenggarakannya proses belajar mengajar secara formal.
Lingkungan sekolah yang kondusif sangat penting dan diperlukan agar tercipta proses pembelajaran yang bermutu. Dalam Undang-undang nomor 36 tahun 2009 tentang kesehatan, di pasal 79 disebutkan bahwa kesehatan sekolah diselenggarakan untuk meningkatkan kemampuan hidup sehat peserta didik dalam lingkungan hidup sehat sehingga peserta didik dapat belajar, tumbuh, dan berkembang secara harmonis dan setinggi-tingginya menjadi sumber daya manusia yang berkualitas.
Peraturan bersama antara Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, Menteri Kesehatan Republik Indonesia, Menteri Agama Republik Indonesia, dan Menteri Dalam Negeri Republik Indonesia nomor 6/X/PB/2014, nomor 73 tahun 2014, nomor 41 tahun 2014, nomor 81 tahun 2014 tentang Pembinaan dan Pengembangan Usaha Kesehatan Sekolah/Madrasah menyebutkan bahwa Usaha Kesehatan Sekolah/Madrasah  (UKS/M) merupakan kegiatan yang dilakukan untuk meningkatkan kesehatan anak usia sekolah pada setiap jalur, jenis, dan jenjang pendidikan. UKS/M ini bertujuan  untuk  meningkatkan mutu pendidikan dan prestasi belajar peserta  didik  dengan meningkatkan perilaku hidup  bersih dan  sehat serta menciptakan lingkungan pendidikan yang sehat, sehingga memungkinkan pertumbuhan dan pekembangan yang harmonis peserta didik.
Dalam praktiknya, kegiatan pokok UKS/M ini dilaksanakan melalui Trias UKS/M, yang terdiri dari pendidikan kesehatan, pelayanan kesehatan, dan pembinaan lingkungan sekolah sehat. Pembinaan lingkungan sekolah sehat meliputi beberapa hal, yaitu:
1.      Pelaksanaan kebersihan, keindahan, kenyamanan, ketertiban, keamanan, kerindangan, dan kekeluargaan (7K)
2.        Pembinaan dan pemeliharaan kesehatan lingkungan termasuk bebas asap rokok, pornografi, narkotika psikotropika dan zat adiktif lainnya (NAPZA), dan kekerasan
3.        Pembinaan kerja sama antar masyarakat sekolah
Sekolah sehat meliputi beberapa dimensi penilaian, antara lain kesehatan fisik, kesehatan sosial, dan kesehatan psikis (Hijjang, 2009). Sekolah sehat adalah sekolah yang secara berkesinambungan terus mengupayakan dan menguatkan kapasitasnya sebagai tempat yang sehat untuk tinggal, belajar, dan bekerja. Sekolah sehat merupakan sekolah yang berupaya untuk menciptakan wilayah yang sehat dan aman, yang menerapkan kebijakan dan praktik promosi kesehatan (Depkes, 2004).
Lingkungan sekolah yang sehat dan kondusif sangat diperlukan agar tercipta proses pembelajaran yang bermutu. Pemberian pengetahuan dan pembentukan kesadaran tentang perilaku hidup bersih dan sehat di lingkungan sekolah akan lebih efektif ketika dilakukan pada siswa sejak di bangku sekolah dasar, sehingga
menjadi sebuah kebiasaan sejak dini. Dengan ditanamkan sejak di sekolah dasar juga diharapkan menjadi pembiasaan ketika berada di luar lingkungan sekolah.
Untuk mewujudkan sekolah/madrasah sehat, diperlukan upaya-upaya yang menyeluruh. Dalam kegiatan pembinaan sekolah sehat STIKes Respati di kawasan kerja Puskesmas Singaparna tahun 2017, upaya yang dilakukan merujuk kepada beberapa sumber seperti kebijakan tentang sekolah sehat serta buku saku dan petunjuk teknis pelaksanaan sekolah/madrasah sehat, yang kemudian disesuaikan dengan sumber daya dan kemampuan yang tersedia untuk pembinaan.




B.           TUJUAN
1.      Tujuan Umum:
Menciptakan lingkungan sekolah yang sehat sehingga derajat kesehatan warga sekolah meningkat dan penyelenggaraan kegiatan belajar mengajar menjadi lebih efektif

2.      Tujuan Khusus:
a.    Melakukan pemantauan kondisi lingkungan sekolah
b.   Melakukan pemeriksaan dan penilaian kondisi lingkungan sekolah
c.    Melakukan diskusi tentang capaian sekolah sehat
d.   Merintis kegiatan sekolah sehat agar menjadi kegiatan berkelanjutan

C.          BENTUK KEGIATAN

Kegiatan yang dilakukan dibagi menjadi tiga bagian, yaitu pemantauan, pemeriksaan dan penilaian, serta diskusi.
1.   Pemantauan
Pemantauan dilakukan untuk melihat kondisi awal lingkungan sekolah. Pemantauan ini dilakukan di setiap ruang yang ada di lingkungan sekolah, meliputi:
a.    Ruang kelas
b.   Ruang guru
c.    Ruang kepala sekolah
d.   Ruang perpustakaan
e.    Ruang UKS yang meliputi program, kelengkapan, dan pemanfaatannya
f.    Sarana sanitasi pendukung PHBS (Perilaku Hidup Bersih dan Sehat) sekolah, yang terdiri dari jamban sehat, kantin sehat, dan sarana cuci tangan
  1. Pemeriksaan dan penilaian
Setelah pemantauan, dilakukan kegiatan pemeriksaan lebih rinci kondisi masing-masing ruang. Pemeriksaan ruang-ruang tersebut terkait dengan aspek kebersihan, kerapian, kesehatan lingkungan, serta ketersediaan sarana pendukung PHBS sekolah.
       Pemeriksaan dan penilaian ini bertujuan untuk melihat kondisi awal lingkungan sekolah, sehingga selanjutnya dapat dijadikan dasar dalam menerapkan konsep sekolah sehat. Dari pemeriksaan dan penilaian diharapkan dapat diketahui poin apa saja yang masih harus ditingkatkan, belum sesuai, atau bahkan kondisinya masih sangat kurang. Pemeriksaan dan penilaian menggunakan instrumen seperti terlampir. 
  1. Diskusi dan Evaluasi
Pasca pemeriksaan dan penilaian kondisi lingkungan sekolah, dilakukan diskusi dan evaluasi dengan pihak sekolah. Diskusi ini melibatkan beberapa pihak seperti dari kepala sekolah, guru, dan beberapa siswa. Dengan adanya diskusi ini diharapkan ada tindak lanjut dari hasil pemeriksaan dan penilaian untuk meningkatkan capaian sekolah sehat yang diharapkan.

D.    SASARAN
Sekolah dasar yang ada di Kecamatan Singaparna, khususnya yang berada di 5 desa yaitu Desa Sukamulya, Desa Singaparna, Desa Cintaraja, Desa Cikunir, dan Desa Cikadongdong.


E.     TEMPAT DAN WAKTU
1.      Kegiatan pembinaan sekolah sehat dilaksanakan di 10 tempat, yaitu:
a.       SDN 2 Cipakat
b.      SDIT Mutiara Sahara
c.       SDN 1 Singaparna
d.      SDN 2 Singaparna
e.       SDN 1 Cintaraja
f.       SDN 2 Cintaraja
g.      SDN Cikunir 1
h.      SDN Anggaraja
i.        SDN Cikadongdong
j.        SDN Mekarahayu

2.      Waktu pelaksanaan pembinaan sekolah sehat dimulai Bulan November s/d Februari 2018


F.     KEPANITIAAN
1.      Teni Supriyani, S.Si., M.K.M (Dosen STIKes RespatI)
2.      Neni Ambar Alawiah, AMKG (Puskesmas Singaparna)
3.      Mahasiswa Program Studi S1 Kesehatan masyarakat





G.    HASIL KEGIATAN
Hasil Pemeriksaan Dan Penilaian Sekolah Sehat (SD/MI/Sederajat)
Di Kecamatan Singaparna
Desa
Nama Sekolah
Total Nilai
Peringkat
Sukamulya
1.    SDN 2 Cipakat
4.136
9
2.     SDN Mutiara Sahara
5.624
2
Singaparna
3.    SDN 1 Singaparna
5.349,5
3
4.    SDN 2 Singaparna
5.762,5
1
Cintaraja
5.    SDN 1 Cintaraja
4.716,5
5
6.    SDN 2 Cintaraja
3.850,5
10
Cikunir
7.    SDN Cikunir 1
4.675
6
8.    SDN Anggaraja
4.175
8
Cikadongdong
9.    SDN Cikadongdong
4.338
7
10.  SDN Mekarahayu
5.112
4

H.    DAFTAR PUSTAKA
Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 2004. Usaha Kesehatan Sekolah dalam Gambar.
Hijjang, P. 2009. Perintisan Model Sekolah Sehat di Sekolah Dasar Sebagai Upaya Peningkatan Kesehatan Warga Sekolah di Kabupaten Pangkep Provinsi Sulawesi Selatan.
Presiden Republik Indonesia. 2003. Undang-undang Republik Indonesia nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.
Presiden Republik Indonesia. 2009. Undang-undang Republik Indonesia nomor 36 tahun 2009 tentang Kesehatan.



I.       DOKUMENTASI
Gambar 1. Pemeriksaan Ruang Perpustakaan
Description: WhatsApp Image 2018-05-03 at 15
Description: WhatsApp Image 2018-05-03 at 15
Gambar 2. Pemeriksaan Kantin Sehat

Description: WhatsApp Image 2018-05-03 at 15
Gambar 3. Pemeriksaan Ruang UKS


Description: WhatsApp Image 2018-05-03 at 15
Gambar 4. Kondisi lingkungan salah satu sekolah

Description: WhatsApp Image 2018-05-03 at 15
Gambar 5. Dokumentasi pasca diskusi dan evaluasi hasil pemeriksaan dan penilaian sekolah sehat




















PEMBINAAN  KADER POSYANDU
WILAYAH KECAMATAN SINGAPARNA
TAHUN 2017

OLEH :
Sinta Fitriani, SKM, MKM
           Chanty Yunie Hartiningrum, SST, M.Kes

A.    DASAR PEMIKIRAN

Kondisi pembangunan kesehatan diharapkan telah mampu mewujudkan kesejahteraan masyarakat yang ditunjukkan dengan membaiknya berbagai indikator pembangunan sumber daya manusia, seperti meningkatnya derajat kesejahteraan dari status gizi masyarakat, meningkatnya kesetaraan gender, meningkatnya tumbuh kembang optimal, kesejahteraan dan perlindungan anak, terkendalinya jumlah dan laju pertumbuhan penduduk, serta menurunnya kesenjangan antar individu, antar kelompok masyarakat dan antar daerah dengan tetap lebih mengutamakan pada upaya preventif, promotif serta pemberdayaan keluarga dan masyarakat dalam bidang kesehatan. Salah satu bentuk upaya 2 pemberdayaan masyarakat di bidang kesehatan adalah menumbuh kembangkan Posyandu (Menkes RI, 2011:2).
Posyandu merupakan salah satu bentuk Upaya Kesehatan Bersumberdaya Masyarakat (UKBM) yang dikelola dan diselenggarakan dari, oleh, untuk dan bersama masyarakat dalam penyelenggaraan pembangunan kesehatan, guna memberdayakan masyarakat dan memberikan kemudahan kepada masyarakat dalam memperoleh pelayanan kesehatan dasar, utamanya untuk mempercepat penurunan angka kematian ibu dan bayi. Sejak dicanangkannya Posyandu pada tahun 1986, berbagai hasil telah banyak dicapai. Angka kematian ibu dan kematian bayi telah berhasil diturunkan serta umur harapan hidup rata-rata bangsa Indonesia telah meningkat secara bermakna (Menkes RI, 2011:2-3).
Posyandu adalah salah satu bentuk Upaya Kesehatan Bersumber Daya Masyarakat (UKBM) yang dikelola dan diselenggarakan dari oleh untuk dan bersama masyarakat dalam penyelenggaraan pembangunan kesehatan. Posyandu bertujuan memberdayakan dan memberikan kemudahan kepada masyarakat dalam memperoleh pelayanan kesehatan dasar untuk mempercepat penurunan angka kematian ibu dan bayi. Ditinjau dari aspek kualitas ditemukan banyak masalah di posyandu, antara lain kelengkapan sarana dan keterampilan kader yang belum memadai, cakupan kegiatan masih rendah, cakupan anak usia di bawah dua tahun masih di bawah 50%, sedangkancakupan ibu hamil hanya sekitar 20% (DepartemenKesehatan Rl, 2006).
Masih sedikitnya jumlah posyandu mandiri saat ini menunjukkan belum optimalnya kinerja posyandu. Halini tampak dari strata posyandu di Indonesia (tahun2004) yakni 33,61% posyandu pratama, 39,86% posyandu madya, 23,62% posyandu purnama,dan posyandu mandiri (2,91 %).
Berdasarkan data yang didapat dari profil Kabupaten Tasikmalaya Posyandu yang berada di Wilayah Kabupaten Tasikmalaya 2.282 unit, Posyandu yang berada di wilayah kerja Puskesmas Singaparna terdapat 40 posyandu tahun 2017.
STIKes Respati sebagai satu-satunya sekolah tinggi ilmu kesehatan di Kabupaten Tasikmalaya memiliki tanggung jawab untuk memberikan kontribusi terhadap permasalahan terkait dengan kesehatan di Kabupaten Tasikmalaya melalui kegiatan Tri Dharma Perguruan Tinggi salah satunya dengan kegiatan pengabdian kepada masyarakat. Salah satu upaya nyata STIKes Respati adalah dengan melaksanakan kegiatan pengabdian kepada masyarakat dengan pendampingan Kader Posyandu sebagai upaya peningkatan status gizi untuk dapat membantu terwujudnya kesehatan masyarakat secara umum dan perbaikan status gizi secara khususnya.
Tujuan  kegiatan ini dilakukan untuk meningkatkan peran kader posyandu dalam menjalankan tugas kadernya baik di hari pelaksanaan maupun di luar hari pelaksanaan.


B.  TUJUAN
Tujuan  kegiatan ini dilakukan untuk meningkatkan peran kader posyandu dalam menjalankan tugas kadernya baik di hari pelaksanaan maupun di luar hari pelaksanaan.


C. BENTUK KEGIATAN
Bentuk kegiatan yang dilakukan adalah sebagai berikut ini :
1.         Pendataan jumlah kader
2.         Survei kemampuan kader dalam melaksanan tugasnya
3.         Diskusi kelompok beserta pihak terkait
4.         Pelatihan kader baik teori maupun praktek
5.         Perlombaan simulasi peran dan tugas kader posyandu
6.         Evaluasi





D.       SASARAN
Sasaran kegiatan ini adalah seluruh kader posyandu yang berada di Wilayah Kecamatan Singaparna


E.        TEMPAT DAN WAKTU
Kegiatan dilaksanakan di Ruang Demonstrasi Laboratorium Respati dan dilaksanakan pada Hari Kamis Tanggal 30 November 2017







F.  HASIL KEGIATAN
1.   Pendataan jumlah kader Pendataan jumlah kader diperoleh langsung dari bagian gizi Puskesmas Singaparna. Diperoleh jumlah kader dari masing masing desa.
Acara pembinaan kader diikuti oleh 10 posyandu dengan jumlah kader 5 orang per posyandu.

2.      Survei kemampuan kader dalam melaksanakan tugasnya
Kegiatan pembinaan diawali dengan pemberian pre test pengetahuan kader tentang peran dan fungsi kader di posyandu.

Untuk kegiatan survey keterampilan kader dilakukan observasI pelaksanaan posyandu dengan simulasi kegiatan posyandu.

3.   Pembinaan kader posyandu
Pemberian materi tentang tugas dan fungsi kader posyandu.

4.   Perlombaan peran dan fungsi kader posyandu
Kegiatan ini dilaksanakan di Kampus STIKes Respati dengan diikuti oleh 10 kelompok kader posyandu.
Penilaian dilakukan oleh tim dosen dan pemegang program gizi Puskesmas Singaparna.
Pemenang lomba kader adalah :
Juara I : Posyandu Cigorowek
Juara II : Posyandu Margamulya
Juara III : Posyandu Babakan Karang II Singaparna


G.    KEPANITIAAN
Kegiatan dilaksanakan oleh Dosen Program Studi S1 Kesehatan Masyarakat dan Diploma III Kebidanan serta oleh mahasiswa STIKes Respati. Adapun pelaksana kegiatan tersebut adalah :
1.      Sinta Fitriani, SKM, MKM
2.      Chanty YH, SST, M.Kes
3.      Tati Maryati
4.      Yunita Puteri
5.      Aty Hermawati
6.      Mahasiswa D III Kebidanan
7.      Mahasiswa S1 Kesehatan Masyarakat




H.             DAFTAR PUSTAKA

I.       DAFTAR PUSTAKA

Departemen  Kesehatan  RI. Pedoman  Umum Pengelolaan  Posyandu Jakarta . 2006.

Pokjunal  Posyandu,  Pedoman  Pengelolaan  Posyandu  Jakarta :  Pokjunal Posyandu : 2006

Dodo.D.  Faktor –Faktor  yang  Berhubungan  dengan  Keaktifan  Kader dalam  Pelaksanaan  Kegiatan  Posyandu  di  Kelurahan :  Jurnal  Pangan, Gizi dan Kesehatan Tahun 1, vol 1, no 1 April 2009

Depkes RI. Pengertian Posyandu, Jakarta. 1991.

Departemen Kesehatan RI. Pengertian Kader. Jakarta.2009.

Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. Vol 13 no 4 : Des. 2010.

Departemen  Kesehatan  RI. Revitalisasi  Posyandu Direktorat  Kesehatan Komunitas. Jakarta. 2005.

Kementrian  Kesehatan  RI. Buku  Panduan  Kader  Posyandu.  Jakarta 2011.











J.       DOKUMENTASI




Description: D:\Pictures\24129652_10210048270354938_4081361512389211056_n.jpg
Description: D:\Pictures\24301103_10210048275235060_7193984409776880580_n.jpg



Description: D:\Pictures\24232531_10210048276875101_1268670674489168163_n.jpg



Gambar :  Simulasi pelaksanaan posyandu
















PEMANTAUAN TUMBUH KEMBANG BAYI DAN BALITA
KECAMATAN SINGAPARNA TAHUN 2017

OLEH :
Hariyani Sulistyoningsih, SKM, MKM,  Annisa Rachmidini, SST, M.Keb
Fenty Agustini, SST, M.Kes, Hapi Apriasih, SST, M.Keb,
 Lia Yuliastuti, SST, M.Keb, Erwina Sumartini, SST, M.Keb



A.    DASAR PEMIKIRAN
Salah satu permasalahan kesehatan di Indonesia adalah keadaan gizi yang kurang baik bahkan buruk. Tercatat satu dari tiga anak di dunia meninggal settiap tahun akibat buruknya kualitas nutrisi. Sebuah riset juga menunjukkan setidaknya 3,5 juta anak meninggal tiap tahun karena kekurangan gizi serta buruknya kualitas makanan. Badan kesehatan dunia (WHO) memperkirakan bahwa 54 persen kematian anak disebabkan oleh karena keadaan gizi yang buruk. Sementara masalah gizi di Indonesia mengakibatkan lebih dari 80 persen kematian anak (WHO, 2011).
Status gizi buruk pada balita dapat menimbulkan pengaruh yang sangat menghambat pertumbuhan fisik, mental maupun kemampuan berfikir yang pada akhirnya akan menurunkan produktivitas kerja. Balita hidup penderita gizi buruk dapat mengalami penurunan kecerdasan (IQ) hingga 10 persen. Keadaan ini memberi petunjuk bahwa pada hakikatnya gizi yang buruk atau kurang akan berdampak pada menurunnya kualitas sumber daya manusia.
Gizi buruk masih menjadi salah satu masalah di Kabupaten Tasikmalaya, pada tahun 2016 jumlah kasus gizi buruk berjumlah 63 kasus, sementara tahun 2017 turun menjadi 41 kasus. Kasus ini dari tahun ke tahun mengalami penurunan, akan tetapi permasalahan gizi kurang masih menjadi masalah nasional yang perlu penanganan serius. Berdasarkan data yang didapat dari profil Puskesmas Singaparna tahun 2016 didapatkan bahwa kasus gizi buruk di Kecamatan Singaparna berjumlah 5 orang.
STIKes Respati sebagai satu-satunya sekolah tinggi ilmu kesehatan di Kabupaten Tasikmalaya memiliki tanggung jawab untuk memberikan kontribusi terhadap permasalahan terkait dengan kesehatan di Kabupaten Tasikmalaya melalui kegiatan Tri Dharma Perguruan Tinggi salah satunya dengan kegiatan pengabdian kepada masyarakat.
 Salah satu upaya nyata STIKes Respati adalah dengan melaksanakan kegiatan pengabdian kepada masyarakat dengan tema Pemantauan Tumbuh Kembang Balita sebagai upaya peningkatan status gizi untuk dapat membantu terwujudnya kesehatan masyarakat secara umum dan perbaikan status gizi secara khususnya.


B.     TUJUAN
Adapun tujuan kegiatan ini adalah untuk melakukan upaya pemantauan tumbuh kembang balita melalui :
1.    Pemeriksaan status gizi balita sebagai salah satu upaya pemantauan pertumbuhan
2.    Lomba merangkak bagi bayi sebagai salah satu upaya pemantauan perkembangan


C.    BENTUK KEGIATAN
Dalam kegiatan pengabdian kepada masyarakat tersebut dilaksanakan beberapa kegiatan, diantaranya :
1.  Pemantauan status gizi balita
2.  Lomba merangkak bagi bayi


D.    SASARAN
Adapun sasaran dalam kegiatan ini adalah :
1.    Seluruh balita di Desa Cikunir Kecamatan Singaparna berjumlah 50 balita
2.    Peserta lomba merangkak bayi berjumlah 18 orang bayi dengan umur antara 6-9 bulan


E.     TEMPAT DAN WAKTU
Kegiatan dilaksanakan di Aula Graha Bhakti Respati dan dilaksanakan pada Hari Selasa Tanggal 28 November 2017


F.     KEPANITIAAN
Kegiatan dilaksanakan oleh Dosen Program Studi S1 Kesehatan Masyarakat dan Diploma III Kebidanan serta oleh mahasiswa STIKes Respati. Adapun pelaksana kegiatan tersebut adalah :
1.      Hariyani Sulistyoningsih, SKM, MKM
2.      Annisa Rachmidini, SST, M.Keb
3.    Fenty Agustini, SST, M.Kes
4.    Hapi Apriasih, SST, M.Keb
5.    Lia Yuliastuti, SST, M.Keb
6.    Erwina Sumartini, SST, M.Keb
7.    Sofha Ramdiani Putri
8.    Windi Restuti
9.    Marfungah Tunnisa
10. Dina Fitria




G.    HASIL KEGIATAN
Kegiatan pemantauan tumbuh kembang bayi balita diikuti oleh 50 orang bayi balita.
Kegiatan ini terdiri dari :
1.      Pemantauan status gizi bayi balita
Dari hasil penimbangan BB dan TB didapatkan bahwa 2 bayi balita dengan ststus gizi kurang.
2.      Lomba merangkak
Lomba merangkak ini diikuti oleh bayi berusia 9 – 12 bulan yaitu 15 orang.
Kegiatan ini dimenngkan oleh :
Juara 1 : Fitra (cikunir)
Juara 2 : Farid (cikunir)
Juara 3 : M Irsyad (Cikadongdong)
3.      Seminar tumbuh kembang bayi balita
Seminar ini dilksanakan bekerjasama dengan RSIA Respati. Materi tentang tumbuh kembang bayi balita oleh dr. Marte, Sp.A. Acara tersebut diikuti oleh 100 ibu bayi balita.







H.    DOKUMENTASI


Description: D:\Pictures\24131133_10210036355097064_8296800257719934430_n.jpg
Penyuluhan tumbuh kembang bayi balita



Description: D:\Pictures\24131124_10210036354777056_4790236495747453578_n.jpg       Description: D:\Pictures\24129753_10210036354577051_403557921296303949_n.jpg
Pemeriksaan status gizi balita dan lomba merangkak






PROGRAM LANSIA
WILAYAH PUSKESMAS SINGAPARNA
KABUPATEN TASIKMALAYA TAHUN 2017

OLEH:
Santi Susanti, SST, M.Kes, Hariyani S, S.KM,M.KM,
Fenty Agustini, S.ST, M.Kes, Tupriliany Danefi, S.ST, M.Kes
Wuri Ratna Hidayani, S.KM, M.Sc



A.    DASAR PEMIKIRAN
Persoalan kesehatan reproduksi bukan hanya mencakup persoalan kesehatan reproduksi perempuan secara sempit dengan mengaitkannya pada masalah seputar perempuan usia subur, kehamilan dan persalinan. Secara lebih spesifik, berbagai masalah dalam kesehatan reproduksi mulai dari perawatan kehamilan, pertolongan pada persalinan, infertilitas, penggunaan kontrasepsi, kehamilan tidak diinginkan dan aborsi, penyakit menular seksual dan HIV/AIDS, pelecehan dan kekerasan pada perempuan, perkosaan, layanan dan informasi pada remaja, serta menopause pada perempuan dewasa, merupakan bagian dari upaya memberikan pendidikan kepada masyarakat tentang pentingnya kesadaran kesehatan reproduksi bagi individu, khususnya bagi perempuan. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa seluruh tingkatan hidup perempuan merupakan fokus persoalan kesehatan reproduksi itu sendiri.
Menurut Manuaba sampai akhir abad 21, diperkirakan antara 8%- 10% penduduk Indonesia adalah lansia dan lansia perempuan akan lebih banyak dibandingkan dengan laki-laki. Badan Kesehatan Dunia atau WHO (World Health Organization) menyebutkan bahwa ledakan menopause pada tahun-tahun mendatang sulit sekali dibendung dan diperkirakan di tahun 2030 nanti ada sekitar 1,2 miliar perempuan yang berusia diatas 50 tahun. Sebagian besar dari mereka (sekitar 80%) tinggal di negara berkembang dan setiap tahunnya populasi perempuan menopause meningkat sekitar tiga persen. 3 Artinya kesehatan perempuan khususnya patut mendapatkan perhatian, sehingga akan meningkatkan angka harapan hidup dan tercapainya kebahagiaan serta kesejahteraan secara psikologis.
Dalam rangkaian disnatalis STIKes Respati Tasikmalaya ke-15 dilaksanakan program pengabdian masyarakat pemeriksaan status kesehatan lanjut usia di wilayah kerja puskesmas Singaparna Kabupaten Tasikmalaya tahun 2017.

B.     TUJUAN
Program ini bertujuan untuk meningkatkan partisipasi masyarakat dalam pemantauan status kesehatan lanjut usia. Diharapkan dari kegiatan ini dapat diidentifikasi status kesehatan lansia dan dapat menigkatkan pengetahuan para lansia tentang status gizi yang baik di usia senja





C.    BENTUK KEGIATAN

Program pengadian masyarakat pemeriksaan status kesehatan lansia adalah sebagai berikut :

No
Nama Kegiatan
Tujuan
Petugas
Penanggung Jawab
1
Gerakan senam lansia
Meningkatkan kesadaran masyarakat lansia untuk berolahraga
2 orang kader
Santi Susanti, S.ST, M.Kes
2
Pemeriksaan TB dan BB
Pendekteksian dini status gizi pada lansia
2 mahasiswa kebidanan
Petugas Puskesmas
3
Pemeriksaan tekanan darah
Pendekteksian dini hipertensi pada lansia
Petugas Puskesmas
4
Pemeriksaan lingkar Perut
Pendeteksian status gizi lansia
1 orang mahasiswa
4
Pemeriksaan gula darah
Pendekteksian dini diabetes militus pada lansia
Laboran Puskesmas dan 3 mahasiswa kebidanan
Laboran Puskesmas

4
Pemeriksaan kolesterol darah
Pendeteksian dini kolesterol pada lansia
5
Penyuluhan Status Gizi Pada Lansia
Meningkatkan pengetahuan lansia tentang kebutuhan nutrisi di usia lanjut
-          Haryani Sulistyoningsih, S.KM, M.KM

Haryani Sulistyoningsih, S.KM, M.KM
6
Registrasi
Mengetahui status kesehatan rproduksi lansia
-          Fenty Agustini, S.ST, M.Kes
-          Tupriliany Danefi, S.ST, M.Kes
-          Wuri Ratna Hidayani, S.KM, M.Sc
-          1 orang mahasiswa

Wuri Ratna Hidayani, S.KM, M.Sc


Pemeriksaan status kesehatan lansia berjalan dengan lancar. Petugas puskesmas memberikan dukungan untuk STIKes membina program posbindu. Para lansia bersemangat dalam mengikuti semua program.
Adapaun saran untuk perbaikan program sebaiknya pendeteksian dini melalui pemeriksaan laboratorium dapat dilaksanakan untuk seluruh peserta, dan pembinaan posbindu dapat dikembangkan sebagai program pengabdian masyarakat yang berkelanjutan.

D.    SASARAN
Peserta program adalah peserta aktif posbindu di wilayah kerja Puskesmas Singaparna dengan jumlah 74 orang.

E.     WAKTU DAN TEMPAT
Pelaksanaan program dilaksanakan pada hari Kamis, 30 November 2017 bertempat di STIKes Respati Tasikmalaya.


F. HASIL KEGIATAN
Hasil kegiatan terdiri dari :
1.      Pemeriksaan kesehatan lansia
Pemeriksaan yang meliputi : pemeriksaan status gizi, pemeriksaan kolesterol, pemeriksaan gula darah dan asam urat.
2.      Senam lansia
Senam lansia diikuti oleh 74 orang lansia dengan instruktur senam dari kader posyandu.
3.      Penyuluhan kesehatan reproduksi dan nutrisi bagi lansia

G. DOKUMENTASI
         Description: D:\Pictures\24068348_10210047742021730_8357104689822092690_n.jpgDescription: D:\Pictures\24068140_10210047743461766_645165291780666477_n.jpg
Description: D:\Pictures\24174455_10210047742221735_3774377831999171340_n.jpg
Gambar 1 Pemeriksaan lansia

Description: D:\Pictures\24131033_10210047744221785_7774688092583862845_n.jpg Description: D:\Pictures\24174183_10210047742421740_8465850231106144813_n.jpg
Gambar 2 Senam lansia
Description: D:\Pictures\24129859_10210047742661746_8302984873060666425_n.jpg
Gambar 3 Penyuluhan Gizi dan kespro lansia


PROGRAM IBU HAMIL SEHAT
KECAMATAN SINGAPARNA
KABUPATEN TASIKMALAYATAHUN 2017



A.    DASAR PEMIKIRAN
Kesehatan ibu hamil adalah salah satu aspek yang penting untuk diperhatikan dalam siklus kehidupan seorang perempuan karena sepanjang masa kehamilannya dapat terjadi komplikasi yang tidak diharapkan. Setiap ibu hamil akan menghadapi risiko yang bisa mengancam jiwanya. Oleh karena itu, setiap ibu hamil memerlukan asuhan selama masa kehamilannya (Salmah, 2006). Angka kematian ibu (AKI) merupakan salah satu indikator untuk melihat derajat kesehatan suatu negara. Jumlah kematian ibu di negara berkembang tergolong tinggi seperti yang terjadi di Afrika Sub Sahara dan Asia Selatan (WHO, 2013).
Salah satu upaya yang dilakukan Departemen Kesehatan dalam rangka mempercepat penurunan angka kematian ibu adalah pelayanan kesehatan maternal yang berkualitas, yaitu melakukan pemeriksaan kehamilan atau Antenatal Care (ANC). Tujuan dari ANC adalah untuk menjaga agar ibu hamil dapat melalui masa kehamilan, persalinan dan nifas dengan baik dan selamat, serta menghasilkan bayi yang sehat (Depkes RI, 2014). Menurut Manuaba  2010 tujuan dilakukan pemeriksaan kehamilan adalah untuk memantau kemajuan kehamilan, memastikan kehamilan ibu dan tumbuh kembang janin, meningkatkan dan mempertahankan kesehatan fisik, mental, dan sosial ibu, mengenali secara dini adanya komplikasi yang mungkin terjadi selama masa kehamilan termasuk riwayat penyakit secara umum dan pembedahan, mempersiapkan persalinan cukup bulan dan persalinan yang normal, mempersiapkan ibu agar masa nifas berjalan normal dan pemberian ASI ekslusif, mempersiapkan peran ibu dan keluarga dalam menerima kelahiran bayi agar dapat tumbuh kembang secara optimal dan menurunkan angka kesakitan dan kematian ibu dan perinatal.
STIKes Respati sebagai satu satunya sekolah tinggi ilmu kesehatan di Kabupaten Tasikmalaya memiliki tanggung jawab untuk memberikan kontribusi terhadap permasalahan terkait kesehatan di Kabupaten Tasikmalaya melalui kegiatan Tri Dharma Perguruan Tinggi yaitu dengan kegiatan pengabdian masyarakat.  Salah satu upaya nyata STIKes Respati adalah melaksanakan kegiatan pengabdian masyarakat dengan tema “Program Ibu Hamil Sehat” sebagai upaya untuk meningkatkan kesehatan ibu hamil dan dengan kegiatan itu sebagai deteksi dini komplikasi pada ibu hamil.

B.     TUJUAN
Untuk melakukan kegiatan Program Ibu Hamil Sehat sebagai upaya meningkatkan kesehatan ibu hamil dan untuk deteksi dini komplikasi pada ibu hamil


C.    BENTUK KEGIATAN
Adapun bentuk kegiatan ini adalah :
1.      Pemeriksaan ibu hamil
Pemeriksaan ibu hamil yang dilakukan meliputi pemeriksaan fisik dan pemeriksaan laboratorium. Tidak itu saja tetapi kami bekerja sama dengan rumah sakit ibu dan anak Respati untuk bisa memfasilitasi pemeriksaan USG jika terdapat ibu hamil yang bermasalah baik itu pada ibu dan juga pada bayinya.
2.      Lomba ibu hamil
Lomba ibu hamil diikuti oleh seluruh ibu hamil yang telah dilakukan pemeriksaan. Dalam lomba ibu hamil ada beberapa kriteria untuk menilai apakah ibu hamil tersebut dikategorikan sebagai ibu hamil sehat. Beberapa kategori diantarannya adalah :
a.       Umur ibu hamil. Penilaian dari umur ibu hamil adalah apakah umur ibu hamil termasuk kategori umur beresiko (<20 tahun dan >35 tahun) dan apakah umur ibu hamil termasuk dalam usia reproduksi sehat (20 – 35 tahun)
b.      Jumlah anak. Penilaian dari kategori jumlah anak adalah apakah ibu mempunyai anak lebih dari 2 dan kurang dari 2
c.       Jarak kehamilan. Penilaian dari kategori jarak kehamilan adalah apakah jarak kehamilan sebelumnya kurang dari 2 tahun dan lebih dari 2 tahun
d.      Kunjungan kehamilan. Penilaian dari kategori kunjungan kehamilan adalah apakah kunjungan/pemeriksaan kehamilan sesuai dengan usia kehamilannya dan sebaliknya 
e.       Status gizi ibu hamil. Penilaian dari ketegori status gizi ibu hamil adalah apakah status gizi baik jika dilihat dari pengukuran LILA (≥23,5 cm) dan kurang jika LILA (<23,5 cm)
f.       Pola konsumsi tablet Fe. Penilaian dari kategori pola konsumsi tablet fe adalah apakah ibu mengkonsumsi tablet fe dengan baik atau ibu mengkonsumsi tablet fe secara kurang baik
g.      P4K. Penilaian dari kategori P4K adalah dilihat dari apakah P4K terisi dan dimengerti atau P4K tidak diisi dan tidak dimengerti
h.      Pengetahuan ibu hamil tentang kehamilan. Penilaian dari kategori pengetahuan ibu hamil tentang kehamilan adalah baik, cukup dan kurang

D.    SASARAN
Adapun sasaran dalam kegiatan ini adalah ibu hamil yang berada di wilayah Desa Cikunir Kecamatan Singaparna dengan rincian sebagai berikut :
1.      Peserta ibu hamil yang melakukan pemeriksaan sebanyak 42 orang
2.      Peserta ibu hamil yang mengikuti lomba ibu hamil berjumlah 41 orang

E.     TEMPAT DAN WAKTU
Kegiatan dilaksanakan di Ruang Laboratorium kebidanan dan Aula STIKes Respati yang dilaksanakan hari senin tanggal 27 November 2017.

F.     KEPANITIAAN
Kegiatan dilaksanakan oleh Dosen Program Studi Kebidanan serta oleh mahasiswa STIKes Respati. Adapun pelaksana kegiatan tersebut adalah :
1.      Tupriliany Danefi, SST.,M.Kes
2.      Widya Maya Ningrum, SST.,M.Kes
3.      Lilis Lisnawati, SST.,M.Keb
4.      Mahasiswa Kebidanan tingkat II












G.    HASIL KEGIATAN
Kegiatan ini meliputi :
1.            Pemeriksaan kehamilan
Pemeriksaan ini mencakup pemeriksaan ante natal care. Hasil pemeriksaan menunjukan dari 50 orang ibu hamil yang diperiksa terdapat 4 orang ibu hamil mengalami Kekurangan energy Kronik (KEK) dan 15 orang ibu hamil dengan anemia sedang.
2.            Lomba ibu hamil sehat
Lomba ibu hamil sehat dengan indicator penilaian : Kunjungan  kehamilan, umur, jumlah anak, status gizi, pola konsumsi dan pengetahuan ibu hamil.
Tim penilaian adalah Bidan Desa, Bidan Puskesmas Singaparna dan dosen tetap STIKes Respati.
Pemenang lomba ini adalah :
Juara I     : Ny. Nunung (Kampung Katubang)
Juara II    : Ny. Nena     (Cidamar)
Juara III  : Ny. Ratna     (Sindangreret)
3.            Penyuluhan tentang sehat selama masa kehamilan
Penyuluhan dilaksanakan oleh tim dosen dengan materi pentingnya nutrisi selama masa kehamilan.
4.            Pemeriksaan USG gratis
Program pemeriksaan USG gratis terselenggara atas kerjasama dengan Rumah Sakit Ibu dan Anak. Voucher USG gratis diperuntukan bagi ibu hamil dengan indikasi atau ibu hamil dengan trimester ketiga.



H.    DOKUMENTASI


Description: D:\Pictures\23905674_10210030097620631_1911426222599707491_n.jpg

Pemeriksaan kehamilan





                                      

Description: D:\Pictures\23844917_10210030098540654_8810616226765550934_n.jpg
Pemeriksaan HB

    Description: D:\Pictures\23843548_10210030097500628_5441577354435860580_n.jpg
Konseling Kehamilan










PENYULUHAN FAKTOR RISIKO TB PARU DI DESA CIKUNIR
KECAMATAN SINGAPARNA KABUPATEN TASIKMALAYA
TAHUN 2017



A.    DASAR PEMIKIRAN
1.         Latar Belakang
Tuberkulosis Paru (TB) paru merupakan penyakit kronis dengan agent Mycobacterium tuberculosis yang terus mengalami peningkatan kasus karena penularannya dari droplet penderita melalui udara. World Health Organization (WHO) merumuskan TB sebagai kegawatdaruratan dunia (Global Emergency). Hal ini disebabkan oleh adanya epidemi Human Immunodeficiency Virus/ Acquired Immuno Deficiency Syndrome (HIV/AIDS). Selain itu juga adanya resisten berbagai obat (Depkes, 2009).
Menurut WHO tahun 2011 menyatakan bahwa prevalensi TB paru diperkirakan dengan total penderita adalah 660.000 penderita per tahun, sedangkan insidensi TB paru diestimasikan sebesar 430.000 kasus baru per tahun. Estimasi kematian akibat TB paru di dunia adalah 61.000 kematian per tahunnya.
Berdasarkan laporan tahunan World Health Organization (WHO) disimpulkan bahwa ada 22 negara dengan kategori beban tinggi terhadap TB (high Burden of TBC Number). Sebanyak 8,9 juta penderita TB dengan proporsi 80% pada 22 negara berkembang dengan kematian 3 juta orang per tahun dan 1 orang dapat terinfeksi TB setiap detik. Indonesia sekarang berada pada ranking kelima negara dengan beban TB tertinggi di dunia (WHO, 2010). Menurut WHO tahun 2014 menyatakan bahwa terdapat 9,6 juta penduduk dunia terinfeksi TB paru.
Berdasarkan laporan Depkes RI tahun 2008 menyatakan bahwa prevalensi TB paru yang paling terbanyak adalah Indonesia bagian timur sebesar 44%, pada peringkat kedua adalah Indonesia bagian barat yaitu di wilayah Sumatera sebesar 33%, di wilayah Jawa dan Bali sebesar 23%. Di provinsi Jawa Barat prevalensi TB paru sebesar  0,7%.
Prevalensi TB paru di Provinsi Jawa Barat terus mengalami kenaikan kasus. Menurut Profil Kesehatan Jawa Barat tahun 2012 menyatakan bahwa Kabupaten Tasikmalaya dengan jumlah kasus TB paru dan diobati sebanyak 1.088 penderita, angka kesembuhan TB paru pada penduduk laki-laki dan perempuan sebanyak 995 penduduk atau sebesar 91,45%. Angka pengobatan lengkap TB paru pada laki-laki dan perempuan sebanyak 29 orang atau sebesar 2,67 %, dengan angka kesuksesan (Success Rate/SR) sebesar 94,12 %. Apabila dilihat dari angka pengobatan lengkap TB paru  menunjukkan masih rendahnya kesadaran penderita TB paru dalam melakukan pengobatan lengkap.
Berdasarkan data di bagian Surveilens Epidemiologi Puskesmas Singaparna tercatat ada 71 penderita TB paru pada tahun 2017. Berdasarkan permasalahan tersebut penulis tertarik untuk melakukan pengabdian masyarakat melalui kegiatan penyuluhan Faktor Risiko TB paru.

B.     TUJUAN
1.      Tujuan Umum
a.       Penyebarluasan informasi untuk meningkatkan pengetahuan TB paru kepada masyarakat Gunung Kawung tentang faktor-faktor risiko TB paru.
b.    Memberikan informasi tentang perilaku berisiko TB paru seperti meludah sembarangan, membuang droplet sembarangan, tidak menggunakan masker, ketidakpatuhan berobat atau drop out yang akan memperlambat kesembuhan TB paru.
c.     Meningkatkan pengetahuan dan kesadaran kepada masyarakat Gunung Kawung untuk senantiasa berperilaku hidup bersih dan sehat.

C.     MANFAAT
Penyuluhan Faktor-faktor risiko TB paru memberikan informasi bagi masyarakat Gunung Kawung tentang definisi TB paru, penyebab, faktor-faktor yang meningkatkan kejadian TB paru, pencegahan TB paru.

D.     BENTUK KEGIATAN
Bentuk Kegiatan pengabdian masyarakat ini antara lain :
1.      Penyuluhan Faktor-faktor Risiko TB paru
2.      Tata Cara pemakaian masker dengan Benar
3.      Diskusi dengan masyarakat Gunung Kawung tentang TB paru.
E.     SASARAN
Masyarakat Gunung Kawung yang menderita TB  paru berjumlah 7 Orang.


F.      WAKTU
Hari                 : Jumat
Tanggal           : 19 Maret 2017
Pukul               : 11.00-13.00 WIB




G.    KEPANITIAAN
Pelindung                    :
Ketua STIKes Respati
Ketua Pelaksana          :
Wuri Ratna Hidayani, S.K.M., M.Sc
Anggota                      :
mahasiswa kesmas

H.    HASIL KEGIATAN
Dengan hasil sebagai berikut ini :
1.   Pemahaman dan pengetahuan tentang faktor-faktor risiko TB paru pada Masyarakat Dusun Gunung Kawung Desa Cikunir Kecamatan Singaparna Kabupaten Tasikmalaya.

2.   Pengetahuan tentang faktor-faktor risiko TB paru pada masyarakat dapat meningkat

3.   Masyarakat memberikan respon positif terbukti adanya tanya jawab tentang faktor risiko TB paru.

4.   Masyarakat bersemangat mengikuti penyuluhan dan diharapkan dapat menghindari faktor risiko TB paru mengaplikasikan pola hidup sehat terutama menggunakan masker ketika kontak dengan orang lain, tidak meludah atau membuang droplet sembarangan. Dapat meningkatkan kepatuhan berobat TB paru di fasilitas kesehatan.












I.       DOKUMENTASI




Description: D:\Downloads\IMG-20180928-WA0044.jpg
Description: D:\Downloads\IMG-20180928-WA0043.jpg                  Description: D:\Downloads\IMG-20180928-WA0045.jpg
                                                                                                   
Gambar : Penyuluhan Faktor resiko KB






KAMPANYE KB DI DUSUN MARGAMULYA DESA CIKUNIR KECAMATAN SINGAPARNA KABUPATEN TASIKMALAYA
TAHUN 2017

OLEH :
Happi Apriasih, SST,M.Kes
Annisa Rahmidini, SST, M.Keb
Chanty Yunie, SST,M.Kes
Santi Susanti, SST,M.Kes


A.    DASAR PEMIKIRAN
Indonesia merupakan salah satu negara dengan penduduk terbanyak di dunia. Ledakan penduduk ini terjadi karena laju pertumbuhan penduduk yang sangat tinggi. Kondisi ini jelas menimbulkan dua sisi yang berbeda. Disatu sisi kondisi tersebut bisa menjadi salah satu kekuatan yang besar untuk Indonesia. Tetapi di satu sisi kondisi tersebut menyebabkan beban negara menjadi semakin besar. Selain menjadi beban negara juga menimbulkan permasalahan lain. Banyaknya jumlah penduduk yang tidak disertai dengan ketersediaan lapangan pekerjaan yang mampu menampung seluruh angkatan kerja bisa menimbulkan pengangguran, kriminalitas, yang bersinggungan pula dengan rusaknya moralitas masyarakat.
Karena berhubungan dengan tinggi rendahnya beban negara untuk memberikan penghidupan yang layak kepada setiap warga negaranya, maka pemerintah memberikan serangkaian usaha untuk menekan laju pertumbuhan penduduk agar tidak terjadi ledakan penduduk yang lebih besar. Salah satu cara yang dilakukan oleh pemerintah adalah dengan menggalakkan program KB (Keluarga Berencana). Program KB pertama kali dilaksanakan pada masa pemerintahan Soeharto yaitu saat Orde Baru. Melalui KB masyarakat diharuskan untuk membatasi jumlah kelahiran anak, yaitu setiap keluarga memiliki maksimal dua anak. Tidak tanggung-tanggung, KB diberlakukan kepada seluruh lapisan masyarakat, dari lapisan bawah hingga lapisan atas dalam masyarakat. Oleh sebab itu laporan ini disusun untuk mengetahui seluk beluk mengenai penyelenggaraan KB di Indonesia, mulai dari sejarah, proses pelaksanaan, kelebihan dan kekurangan dari KB, serta dampak positif maupun dampak negatf dari pelaksanaan KB.


B.      TUJUAN
1.      Untuk mengetahui peran dari pemerintah dan masyarakat dalam pelaksanaan program KB
2.      Untuk mengetahui gambaran pelaksanaan program KB di Indonesia

C.     BENTUK KEGIATAN
Kampanye tentang Keluarga Berencana (KB) pada Pasangan Usia Subur (PUS) di daerah desa Margamulya

D.    SASARAN
Seluruh Pasangan Usia Subur (PUS) di daerah dusun  Margamulya

E.     TEMPAT DAN WAKTU
Hari/Tanggal                           :
Selasa, 23 Maret 2017
Tempat                                    : Madrasah  Margamulya

Waktu                                     :
08.00 s.d Selesai


F.     HASIL KEGIATAN
Kegiatan yang dilakukan adalah penyuluhan. Materi yang disampaikan adalah tujuan keluarga berencana, tujuan KB dan jenis alat kontrasepsi disesuaikan dengan tujuan KB.
Kegiatan ini diikuti oleh Pasangan Usia Subur  yaitu sebanyak 64 orang. Kegiatan ini meliputi penyuluhan dan pembagian leadlet materi KB.

G.    KEPANITIAAN
Pelaksana                                :
Annisa R, SST,M.Keb
Happi Apriasih, SST,M.Kes
Santi Susanti, SST,M.Kes
Chanty Yunie, S.ST,M.Kes

H.    DOKUMENTASI
                                       


Description: C:\Users\Toshiba\AppData\Local\Microsoft\Windows\Temporary Internet Files\Content.Word\PhotoGrid_1472437597254.jpg



















    


      Description: C:\Users\Toshiba\AppData\Local\Microsoft\Windows\Temporary Internet Files\Content.Word\PhotoGrid_1472437463583.jpg

      

Tidak ada komentar :

Posting Komentar