Kamis, 02 Januari 2020

LINDUNGI ANAK DARI KEKERASAN EMOSIONAL


LINDUNGI ANAK DARI KEKERASAN EMOSIONAL
Oleh :
Santi Susanti, S.SiT, M.Kes
Dosen Tetap Program Studi DIII Kebidanan
STIKes Respati Tasikmalaya
Anak  merupakan  asset  bangsa sekaligus  amanah  yang  kelak  akan memelihara,  mempertahankan,  serta mengembangkan  kekayaan  dan  perjuangan bangsa. Oleh karena itu anak harus sehat, baik secara jasmani  maupun rohani  agar  terjamin tumbuh kembang mereka sesuai dengan hak-haknya.  Setiap  anak  pada  hakikatnya membutuhkan  perawatan,  perlindungan, pengajaran, dan kasih sayang oleh orang-orang dewasa khususnya orang tua, agar menjamin kebutuhan  fisik,  mental,  sosial dan  spiritual mereka. Orang tua memperoleh  tangung  jawab pertama dan utama yang berkewajiban memenuhi hak dan kebutuhan anak mereka. Semua  anak  memiliki  hak  untuk dilindungi  dari  kekerasan,  eksploitasi  dan  pelecehan sesuai dengan Undang-Undang nomor 23 tahun 2002 pasal 13 yang berbunyi: “Setiap anak selama dalam pengasuhan orang tua, wali, atau pihak lain mana pun  bertanggung  jawab  atas pengasuhan,  berhak  mendapat perlindungan  dari  perlakuan  : diskriminasi,  eksploitasi  baik ekonomi  maupun  seksual, penelantaran,  kekejaman,  kekerasan, dan penganiayaan.
Kekerasan pada anak menurut Undang-Undang nomor 35 tahun 2014 adalah setiap perbuatan pada anak yang berakibat timbulnya kesengsaraan, atau penderitaan secara fisik, psikis, seksual, dan atau penelantaran termasuk ancaman untuk melakukan perbuatan, pemaksaan, atau perampasan kemerdekaan dengan cara melawan hukum. Kekerasan emosional atau psikhologis merupakan salah satu jenis kekerasan yang sering tidak disadari oleh sebagian besar orang tua. Kekerasan anak secara psikis meliputi penghardikan, penyampaian kata-kata kasar dan kotor, memperlihatkan buku, gambar, dan film porno kepada anak. Anak yang mendapatkan kekerasan psikis umumnya menunjukkan gejala 7 perilaku maladaptif, seperti menarik diri, pemalu, menangis jika didekati, takut keluar rumah dan takut bertemu dengan orang lain
Hasil survey sosial ekonomi nasional modul ketahanan social (Hansos) 2014 persentase jenis perilaku kekerasan dalam mendidik anak umur 1 – 14 tahun adalah 21,48 %. 41, 86% dilakukan dengan membentak/menakuti. Dampak kekerasan pada naka perempuan 13,2% merokok, 13% terpikirbunuh diri, 12% mabuk, 11% terpikir bunuh diri, 6,09 % menggunakan narkoba. Sementara pada anak laki-laki 46,6% merokok, 25,8% mabuk, dan 27,6 % perilaku destruktif lainnya. Tindakan kekerasan sering kali diterima oleh anak, tanpa sedikitpun anak dapat memberla diri. Pelaku kekerasan kepada anak biasanya adalah keluarga, tetangga dan teman. Banyak sekali pelaku kekerasan pada anak adalah orang tua, sehingga sering sekalu tidak terjangkau hukum karena orang tu beranggapan bahwa ia adalah pihak yang paling berhak terhadap anak.
Dampak kekerasan pada anak akan menyebabkan perilaku anak menarik diri, ketakutan, menunjukkan perilaku agresif, emosi yang labil, menunjukkan gejalan depresi, kecemasan, adanya gangguan tidur, phobia, ketika dewasa bisa sebagai pelaku abuse, menjadi bersifat keras, gangguan trauma, dapat terlibat dalam penggunaan zat adiptif. Dampak lainnya adalah menutup nutupi luka yang ada pada mereka, bungkam dan merahasiakan pelakunya, mengalami keterlambatan dalam perkembangannya, mengalami kesulitan dalam bergaul dengan teman-temannya, mungkin menunjukkan gejala menyakiti diri sendiri atau bunuh diri.
Strategi pencegahan dan penanganan kekerasan pada anak dapat dilakukan dengan  (1) dukungan pada setiap orang tua dengan penguatan keterampilan asuhan pada anak, (2) Mengajarkan anak berfikir kritis, bertindak asertif, berani menolak, dan mengeluarkan pendapat secara koopertif sehingga mereka dapat melindungi dirinya sendiri dari tindak kekerasan yang terjadi di lingkungaannya, (3) mengubah pola pikir masyarakat yang menganggaap kekeraan adalah bentuk dari disiplin sehingga dapat membedakan norma yang sesuai dan yang membahayakan bagi anak, (4) Menyediakan layanan bagi anak seperti layanan pengaduan ketika megalami tindak kekerasan, memberikan informasi dan memberikan bantuan untuk mendapatkan pemulihan dan tindakan yang tepat, (5) Kebijakan pemerintah.
Anak merupakan tunas bangsa yang memiliki potensi dan generasi muda penerus cita-cita perjuangan bangsa. Anak memiliki peran strategis, ciri dan sifat khusus. Peran strategis anak menunjukkan bahwa anak merupakan generasi penerus bagi suatu bangsa. Sementara itu anak juga mempunyai ciri dan sifat yang berbeda dengan orang dewasa. Dengan demiakian anak wajib dilindungi dari segala bentuk perlakuan tidak manusiawi termasuk kekerasan. Perlu  kesadaran  bersama, bahwa  tindak  kekerasan  sudah  merupakan kejahatan yang  sangat luar  biasa yang dapat mengganggu tumbuh kembang anak di masa yang akan  datang.


Tidak ada komentar :

Posting Komentar