Jumat, 03 Januari 2020

TRADISI NUJUH BULANAN DALAM KESEHATAN


  TRADISI NUJUH BULANAN DALAM KESEHATAN

               OLEH :  Chanty YH, SST, M.Kes

Dosen Program Studi Diploma III Kebidanan

             STIKes Respati Tasikmalaya 

     Alamat email : chanty.yunie@gmail.com
 
 

 





Kata “kebudayaan” berasal dari (bahasa sansekerta) buddhayah  yang  merupakan bentuk jamak kata “buddhi” yang berarti budi atau akal. Kebudayaan diartikan sebagai “hal-hal yang bersangkutan dengan budi atau akal”.  Menurut EB Tylor mendefinisikan kebudayaan adalah kompleks yang mencakup pengetahuan,  kepercayaan,  kesenian, moral, hukum, adat istiadat, dan lain kemampuan – kemampuan serta kebiasaan - kebiasaan yang didapatkan oleh manusia sebagai anggota masyarakat.
Melakukan Ritual nujuh bulanan (khusus pada kehamilan pertama), Masyarakat Indonesia merupakan masyarakat yang  majemuk, Diantara kebudayaan maupun adat istiadat, ada kebiasaan yang merugikan dan ada juga yang menguntungkan bagi status kesehatan ibu hamil.
Dari tradisi nujuh bulanan ini agar masyarakat dapat mengetahui dari beberapa unsur yang mempengaruhi dalam oleh ilmu pengetahuan sosial budaya yang kurang sehingga timbulah mitos yang sering kali kita temui bahkan dipercayai dalam kehidupan sehari-hari. Saat seorang wanita suku jawa mengandung pertama kali dan usia kandungannya sudah mencapai tujuh bulan, mereka akan melakukan semacam ritual selamatan yang disebut Mitoni/Tingkeba yang berarti Tutup. Hakekat mitoni ini adalah mendoakan calon bayi serta ibu yang mengandungnya agar sehat selamat saat kelahiran nanti (Raffles, 2014).
Dalam tradisi Sunda tidak hanya upacara nujuh bulanan yang sudah menjadi tradisi tetapi ada juga upacara empat bulanan hampir sama seperti nujuh bulanan namun kini upacara tersebut sudah jarang dilaksanakan mungkin hanya segelintir orang saja yang masih menjalankan tradisi tersebut. Pada kenyataannya tradisi nujuh bulanan ternyata tidak hanya terdapat pada suku sunda saja melainkan di suku jawa pun terdapat tradisi semacam ini. Tujuan nya sama hanya saja cara dan prosesinya sedikit berbeda.
Nujuh bulanan dapat dilakukan oleh masyarakat dengan kegiatan-kegiatan yang positif yang tidak melukai ibu dan bayinya selama dalam kandungan, nujuh bulanan biasanya di lakukan dengan acara : Dibuka dengan pengajian ayat-ayat suci alquran, Siraman, memasukan kelapa gading ke dalam gentong, dan acara yang terakhir yaitu dengan pembagian rujak.
Nujuh bulanan adalah sebagai pewaris budaya lokal tersebut. Budaya nujuh bulanan kita jadikan nasional bahkan global. Budaya lokal digali kembali, diteruskan, dan diakui sebagai milik nasional. Selain itu, untuk memenuhi perasaan batin terhadap makna dalam ritual tradisi nujuh bulanan kita juga harus bercermin pada kehidupan nenek moyang yang mencintai alam, memeliharanya, dan melestarikannya sebagai perwujudan untuk menghargai kelangsungan hidup manusia selama memanfaatkan alam. Jadi sebagai masyarakat Jawa Barat tradisi nujuh bulanan dapat dilakukan sesuai dengan adat yang ada di daerah masing-masing yang sesuai susuai dengan kebutuhannya.











































































Tidak ada komentar :

Posting Komentar